Penyelenggaraan “Festival Pesona Cirebon 2016” pada 31 Maret hingga 2 April menjadi batu lompatan bagi Kota Cirebon

jaknews

Penyelenggaraan “Festival Pesona Cirebon 2016” pada 31 Maret hingga 2 April menjadi batu lompatan bagi Kota Cirebon, untuk menjadi salah satu tujuan wisata unggulan Jawa Barat.

Grup vokal asal Amerika Serikat Boyz II Men dipastikan bakal meramaikan perhelatan Indihome Prambanan Jazz 2016

Tujuan utama dari penyelenggaraan festival yang diinisiasi oleh Keraton Kasepuhan Cirebon dan Kementerian Pariwisata tersebut adalah untuk mengembangkan destinasi pariwisata budaya di Cirebon agar lebih dikenal dan mampu menarik wisatawan untuk berkunjung.

“Wisata Cirebon diharapkan bisa terekspose, karena sebenarnya lokasinya (Cirebon) sudah strategis,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya pada Seminar Pariwisata Festival Pesona Cirebon 2016 di Cirebon, Kamis (31/3).

Dia mengatakan Cirebon memiliki lokasi strategis karena dekat dengan Jakarta dan menjadi tempat transit yang banyak dilalui masyarakat.

Keberadaan Bandara Internasional Kertajati Jawa Barat yang ditargetkan beroperasi akhir 2017 dapat memberikan dampak positif bagi pariwisata Cirebon.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan atau Aher mengatakan persiapan wisata di wilayah Cirebon Raya sudah siap dengan adanya infrastruktur yang cukup baik dari jalur darat, udara, dan laut.

“Persiapan di wilayah Cirebon yang mencakup Cirebon, Kuningan dan Majalengka cukup baik dengan sudah diselesaikannya jalur tol Cipali untuk menuju wisata yang ada,” kata Aher.

Selain akses darat Tol Cipali, juga sedang dibangun Tol Cisumdawu untuk mengoneksikan wilayah Cirebon dan sekitarnya dengan Bandung.

Dengan adanya infrastruktur tersebut ia berharap untuk wisatawan bisa menikmati wilayah Cirebon yang kaya akan wisata.

Aher juga menyebutkan bahwa potensi utama pariwisata Cirebon adalah kerajinan, kesenian, dan budaya.

“Kalau Cirebon itu lebih baik pariwisata yang dikembangkan pada kerajinan, seni dan budaya, karena itulah potensi terbesarnya,” kata Gubernur Aher.

Menurut dia, kerajinan di Cirebon sangat beragam, seperti batik motif megamendung Cirebon yang memiliki sejarah lama di Jawa Barat.

“Meskipun sekarang ini setiap daerah mempunyai batik khas tapi kalau di Jabar yang mendominasi adalah batik Cirebon,” tuturnya.

Potensi pariwisata Cirebon lainnya adalah budaya, di mana di Cirebon sendiri mempunyai empat keraton, yaitu Keraton Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan dan Kaprabonan.

Di Keraton Kasepuhan, sebagai salah satu keraton yang tertua, banyak menggelar kegiatan hajat dan tradisi dalam satu tahun.

Beberapa adat tradisi tersebut antara hajat 1 Syuro, jamasan pusaka, hajat pembuatan ukup, Haul Sunan Gunung Jati, dan kegiatan adat lain yang erat dengan tradisi Islam.

Dari sisi kesenian, Cirebon memiliki daya tarik berupa tari topeng, sintren, angklung bungko, brai, kesenian burok, genjring rudat, sampyong, dan wayang golek.

Selain itu, Cirebon juga memiliki beragam tempat wisata, antara lain makam Sunan Gunung Jati, Plangon, Curug Sidomba, Pulau Biawak, Goa Sunyaragi, Pantai Kejawanan, kawasan kesenian batik Trusmi, dan Belawa.

Festival Pesona Cirebon diharapkan dapat memenuhi target 12 juta wisatawan budaya yang berkunjung ke Cirebon pada 2019.

Untuk wisatawan mancanegara, Cirebon menargetkan wisatawan asal Tiongkok karena banyaknya hasil persinggungan budaya antara kesultanan-kesultanan Cirebon dan Tiongkok di masa lalu.

Tantangan Pengembangan Destinasi Cirebon termasuk terlambat dalam melakukan penguatan pondasi destinasi pariwisata budaya di Indonesia.

Ketika wilayah lain, seperti Bali dan Yogyakarta, sudah gencar promosi pariwisata budaya sejak 30-40 tahun yang lalu, Cirebon justru baru memulai pada 2015.

Pengembangan destinasi pariwisata budaya di Cirebon bukan tanpa kendala. Keputusan yang sinergis antara pemerintah nasional, pemerintah daerah, dan pelaku bisnis pariwisata diperlukan untuk mendongkrak pariwisata Cirebon.

“Ada beberapa kelemahan yang perlu diperbaiki, yaitu pengembangan destinasi pariwisata, akses ke tempat wisata, dan akomodasi seperti hotel,” kata Menpar Arief Yahya.

Arief meminta semua pemangku kepentingan dalam hal pariwisata di Cirebon dapat kreatif dalam mengembangkan pariwisata.

Dia menyarankan kepada pemerintah daerah agar dana untuk kebutuhan pengembangan pariwisata jangan habis hanya untuk menggelar acara, namun idealnya harus seimbang dengan biaya promosi di media.

“Maksimum biaya ‘event’ 50 persen, kemudian sisanya untuk promosi melalui media massa atau mencari ‘endorser’,” kata Arief.

Dia mencontohkan pernyataannya tersebut dengan Banyuwangi yang dianggapnya dapat menjadi contoh yang baik untuk pengembangan destinasi wisata suatu daerah.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Jawa Barat Budijanto Ardiansjah persoalan pariwisata yang perlu diperbaiki di Cirebon adalah promosi yang mampu menarik banyak wisatawan untuk berkunjung.

Promosi dapat dilakukan dengan penyelenggaraan berbagai kegiatan di Cirebon maupun mengikuti pameran perjalanan wisata.

“Pertama dengan penyelenggaraan festival, dan bisa dengan membuat ‘sales mission’ untuk negara target pasar memanfaatkan ‘travel fair’,” kata Ardiansjah.

Sementara itu, Sultan Keraton Kasepuhan XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat mengakui Cirebon memiliki banyak pesona pariwisata namun belum diketahui secara optimal.

Sultan Kesepuhan berharap ada perbaikan dalam penataan objek wisata, penataan kota dari elemen estetis, dan perilaku sadar wisata masyarakatnya.

“Agar terasa ketika orang masuk ke Cirebon, saat ini belum”, kata dia.

Sultan Sepuh berharap penyelenggaraan “Festival Pesona Cirebon 2016” dapat melibatkan semua pemangku kepentingan agar terbawa untuk lebih memperkenalkan pariwisata Cirebon.

Kesiapan Cirebon akan diuji pada 2017 ketika menjadi tuan rumah “Festival Keraton Nusantara XI” untuk kemudian disusul dengan “Visit Cirebon Year” pada 2018.

“Visit Cirebon Year 2018” akan diramaikan oleh berbagai kegiatan, seperti Festival Cheng Ho (Februari 2018), Festival Wali Songo (September 2018), Festival Pesisir/Sedekah Laut (Oktober 2018), dan Muludan Fair (November 2018).

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan atau Aher berpesan agar perkembangan pariwisata Cirebon jangan meninggalkan identitasnya.

Dia berpesan agar Cirebon tidak melupakan akar budayanya ketika membuka pintu pariwisata yang identik dengan modernitas. “Harus mampu menjaga sebagai kota wali yang menjadi sumber religiositas Jawa Barat,” kata Aher.




Leave a Reply