Berita Musik Terbaru Resensi Album Baru Lirik & Kord Profil Artis Agenda Panggung Forum Diskusi
 
Kamis, 9 September 2010


Denger Musik Online
Situs Artis Indonesia

B M W




» SORE: Kembalinya si 'Eclectik From The Past'
TAHUN 2005 SILAM, Band bernama SORE ini mengejutkan banyak orang di dunia musik Indonesia. Tanpa ‘woro-woro’ yang hangar-bingar, band yang berawak Awan Garnida [vokal/bass], Ade Firza Paloh [vokal/gitar], Gusti Pramudya [drum/gitar/vokal], Reza DwiPutranto [vokal/gitar], dan Ramando Gascaro [kibord/piano/vokal], tiba-tiba dijejalkan dalam deretan band-band yang albumnya “wajib’ dimiliki oleh majalah TIME Asia.

Album pertamanya ‘CENTRALISMO’ meski bagi sekalangan orang terkesan ribet, berat dan out-of date, dianggap memberi sedikit pencerahan musikal dari sisi ide yang unik dan musikalitas yang rapi dan terjaga alurnya. Ditambah secara fashion, SORE juga memilih aksen-aksen lawas yang memperkokoh imej jadulnya. Tapi meminjam istilah iklan di televisi, biar jadul tapi kagak hancur. Istilah sederhana untuk membuka kran disolasi musik Indonesia.

Tapi memang mereka beraliran lawas-lawas gitu? Ada yang menyebutnya Ada yang menyebut collage rock, ada yang bilang pop nostalgia, psychedelic. “Terserah deh, kami tidak pernah membatasi musik kami. Jadi biarkan dia mengarah kemana saja,” tegas SORE suatu ketika.

Setelah sibuk manggung [dan seabrek side job, pastinya], SORE kembali merilis album baru, album kedua, yang mereka beri title ‘PORTS OF LIMA.’ Seperti ditulis di awal, tidak usah pusing-pusing mikir judulnya. Nikmati saja musiknya.

Dari sound dan kapasitas lirik yang masuk di album ini, SORE tampaknya kental terpengaruh oleh film. Mendengar album ini, kita sepeti diajak berpetualang pada patahan-patahan film yang mungkin pernah kamu tonton juga. Kalau pengaruh musikal, mereka tetap “kesurupan” dengan pengaruh Steely Dan, The Beatles, Ismail Marzuki, P. Ramlee, Bimbo, Guruh Sukarno, Eros Djarot, Morrissey, Smashing Pumpkins, Sonic Youth, Genesis, Vina Panduwinata, Corduroy, Frank Zappa. “Tapi kami olah dengan sentuhan modern loh,” kata SORE lagi.

Oh ya, untuk album kedua ini, SORE banyak bermain dengan distorsi gitar. Sementara di album pertama, brass dan stringlah yang mendominasi. Hasilnya memang tidak semegah dan semewah album pertama, tapi kesan ‘klasiknya’ lebih kerasa karena karakter choir pada backing vocal kini juga dipertebal.

Konsep SORE untuk album ini memang lebih ke edukasi dan pencerahan. “Kami mencari tema yang tidak terlalu berat, tapi tetap edukatif dan introspektif, selain juga karena cocok dengan musik kami. Betapa bangsa ini butuh lagu dengan lirik dan tema yang baik, bayangin kalo lo punya anak yang suka nyanyi lagu ‘patah hati lalu bunuh diri’ yang lagi ngetop itu. Biasanya sih anak kecil suka singalong kalo dengerin sinetron. Kami ingin anak-anak kecil itu menyanyikan sesuatu yang lebih baik,” papar SORE panjang lebar.

Lagu-lagu yang ditawarkan di album ini juga makin variatif, meski secara “soul” mereka mundur ke era bangsa ini baru terbentu, tahun 40-an. “Kami tergila-gila dengan musikmusik era itu, dan semua proses penciptaannya,” jelas SORE mantap. Hal itu yang kemudian membuat mereka tak sekedar membuat album, tapi juga mengadakan riset musikal kecil-kecilan di rentang era yang lama terhilang itu.

Dan SORE merekomendasikan beberapa pilihan lagu, untuk beberapa suasana. “Buat yang jatuh cinta, kami persembahkan ‘Karolina’ yang dinyanyikan oleh Mondo dan Ade dan ‘Senyum dari Selatan’ oleh Awan. Buat yang lagi butuh semangat dalam menghadapi hidup, ada ‘In 1997 The Bullet Was Shy’ yang dinyanyikan oleh Mondo. Buat yang suka Role Playing Game (RPG), coba dengerin ‘400 Elegi’ dinyanyikan oleh Bemby yang memang gamer sejati. Ada juga lagu ‘Ernestito’ yang dinyanyikan oleh Mondo. Lagu riang ini merupakan salah satu soundtrack film ‘Quickie Express’-nya Dimas Djay. Warna lagu paling edgy masih dari Echa dengan ‘Merintih Perih’ tentang penindasan hak asasi dengan lirik yang implisit,” tambah SORE membeber sedikit tentang karyanya.

Beberapa nama besar ikut terlibat, membuat album ini terasa lebih “nyaman” sebagai satu racikan yang pantes di dengar. Vokal latar ada Mian Tiara dan Tika hadir menyejukkan suasana. Tak ketinggalan pula vokal Ario Hendarwan (The Adams), gitar Aghi Narottama (LAIN, Apeontheroof) dan bahkan permainan piano Andi Riyanto di lagu”400 Elegi” dan “Karolina”. “It was a gift from heaven. Beliau menawarkan diri sewaktu ketemu gue di Indonesian Idol,” kenang Bemby Gusti, sang drummer yang sempat berlatih bersama para calon penyanyi idola tersebut.

Hmm..kini SORE kembali dengan “kesejukkan” yang masih hangat. Sisi musikalnya adalah sisi terang yang memberi cakrawala musik terlihat lebih membentang. Bukan satu warna matahari tenggelam, yang kemudian menjadi kegelapan. Siap menikmati SORE kembali? [joko.moer/foto: aksara-record]

A R S I P  
©2000 - 2005 TEMBANG.com. All rights reserved.