KONON, mulai banyak musisi [dan label] yang "berteriak" nyaring, 'Save Our Music' lantaran industri musik kini kudu berperang dengan pembajak yang notabene bermodal besar [dan dibeking nama-nama 'sakti' yang sudah tersentuh juga].
Tapi "kekeruhan" industri, tak serta merta mematikan anak-anak muda yang berniat ngeband, berkarya, rekaman dan sukur-sukur bisa laku dan ngetop tentu saja. Salah satu yang mulai berkibar, meski belum terlalu kencang adalah band asal Surabaya bernama KEN. Namanya memang singkat begitu.
"KEN itu artinya kuat dalam bahasa Jepang, tapi tampan dalam bahasa Irlandia," kata KEN rame-rame, ketika manyambangi redaksi TEMBANG.COM, beberapa waktu lalu.
Boleh saja berfilosofi macam-macam, tapi bagaimana dengan "amunisi' band itu sendiri untuk bersaing di dunia musik Indonesia yang terasa makin padat saja ini?
Pertanyaan itu kini menjadi pertanyaan wajib buat band-band baru yang bermunculan bak cendawan di musim hujan. Maklumlah,ibara kompetisi, industri musik kita sudah menggunakan sistem gugur. Gagal di pencapaian pertama, ibaratnya sudah "siap-siap masuk kota" meski ada beberapa yang bisa bangkit lagi juga.
Dana (vocal), Roseno (keyboars, back vocal), Ijal (gitar), Kristo (bass) dan Nandry (dram) memang tak sedang 'menggantang asap' dan sekedar bermimpi aja. Mereka sudah mulai berkiprah sejak tahun 2003 silam. {ada awal terbentuk, band ini masih menggunakan nama NOISIA dan mereka "ngamen" dari kafe ke kafe di Surabaya.
Capek karena hanya menerima request-request lagu saja, mereka sepakat membuat dan menyanyikan lagu karya sendiri. Keputusan ini ternyata harus berbuntut pahit, karena tidak semua personil setuju dengan resiko ini. Apalagi kemudian mereka memilih jalur indie sebagai gerilya untuk dikenal. Keluar masuk personil, menjadi hal yang rutin kemudian. Meski itu tak mematikan mimpi-mimpi mereka.
Seiring dengan perjalanan waktu, mereka membuat demo dengan bantuan seorang additional gitar dan akhirnya hijrah ke Jakarta utk menawarkan demo ke berbagai major label. Cerita ditolak, dijanjikan untuk menunggu sampai tidak dilirik sama sekali, sudah jadi langganan buat mereka. Putus asa? "Nyaris, karena kita kan capek juga ditolak terus," kata Dana sambil terkekeh.
Sampai akhirnya ada satu label --tidak terlalu besar-- t4ertarik dengan materi album yang mereka tawarkan. Itupu tak langsung rekaman, karena ada nama seperti Andy Rianto yang "berniat" membantu. "Awalnya Andy Rianto juga sudah lupa sampai suat ketika dia dengar materi kita lagi dan memutuskan untuk membantu penuh," cerita Roseno, cowok berkulit putih asal Semarang ini.
Di tengah prores rekaman itulah, nama NOISIA yang mereka anggap terlalu "berisik" diubah menjadi KEN. "Itu kita lakukan sekitar Desember 2006 lah," jelas Dana, vokalis pop yan dandanannya 'rada' ngepunk itu kalem.
Kemudian additional-gitar yang dulu sempat membantu, mundur dan KEN merekrut gitaris baru bernama Ijal. "Ijal ini dulu gitaris Sakura, jebolan Dream Band 3," terang Roseno.
Meski sempat ngulik di are rock, KEN akhirnya memutuskan untuk bermain di area aman, pop. "Awalnya kita memang ngerock, kita juga sempat main musik rock Jepang-Jepangan sebelum memutuskan main pop saja," kenang Kristo yang nimbrung bicara. Menurut Dana, mereka sebenarnya tak pernah mengkotak-kotakkan musik seperti itu. "Mungkin karena orang melihat kita dulu main musik rock, jadi asumsinya begitu," terang Kristo lagi.
Proses rekaman, video klip, promosi dan mencuatnya nama mereka, membuat KEN yang kini banyak bermain musik british, memutuskan diri hijrah ke Jakarta. "Sederhana aja sih, karena Jakarta kan barometer musik Indonesia. Katanya kalo mo tembus pasar Indonesia, harus tembus Jakarta dulu. Jadi kita putuskan pindah ke Jakarta," tegas Dana.
Dan perjalanan panjang mereka akhirnya membuahkan hasil lewat album pertama 'JALAN LAIN KE HATIMU' [2008]. Menariknya, album ini direspon pasar dengan cepat. Single 'Batas Waktu' menjadi high-request di radio. Imbasnya adalah tawaran manggung berjibun pastinya, selain tampil di acara reguler televisi.
Roseno yang menjadi 'master-mind' dari lagu-lagu di album pertama ini, memainkan lirik yang dekat dengan persoalan-persoalan anak muda sekarang. "Itu bisa kita ambil dari kejadian yang dialami KEN atau curhatan kawan," tuturnya tentang rahasia penciptaan lagunya.
Kini, bareng Omega Pacific Production, KEN sedang mempersiapkan amunisi ke-2 lewat single baru 'Maaf Jika Dia Terluka' yang diharapkan menuai sukses yang sama dengan single pertama.
KEN kini sudah meretas jalan ke panggung yang lebih besar. Ingin bertahan, ingin tumbang, atau ingin aman-aman saja, itu semua pilihan KEN sendiri. Mumpung sudah mulai diakrabin pecinta musik, berkarya lebih baik adalah satu-satunya pilihan. Berani nggak? [djoko.moernantyo/foto: istimewa]
|