Mengemas kembali lagu-lagu masa lalu dengan format yang lebih ngepop, dan digemari generasi baru dijaman sekarang, menjadi salah satu pilihan untuk mempopulerkan kembali tembang yang sempat “berjaya” dimasanya. Dengan aransement musik yang berbeda dan penyanyi baru yang memiliki karakter pas menjadi sebuah karya yang patut disimak. Hal inilah yang menjadi alasan, kolaborasi Yayasan Irama Nusantara bersama MLDSPOT dengan meluncurkan album mini bertajuk Lagu Baru dari Masa Lalu – Volume 1. Karya berisi lima lagu legendaris era 1980-an yang diaransemen ulang dan dinyanyikan oleh delapan musisi Indonesia.

Tembang pertama adalah “Walau Dalam Mimpi” ciptaan David Mesakh yang dulu dipopulerkan oleh Ermy Kulit. Lagu tersebut dinyanyikan ulang oleh musisi perempuan beraliran pop eksploratif asal Bandung, Dhira Bongs, yang menyajikan lagu dengan gaya dan karakternya.

Tidak kalah menarik, Lagu “Senja dan Kahlua” milik grup band Transs yang digawangi nama-nama tenar seperti Fariz RM dan Erwin Gutawa, kini dibawakan kembali oleh Kurosuke. Sementara, “Terbanglah Lepas” ciptaan almarhum Yockie Suryoprayogo dibawakan oleh putrinya, Aya Anjani, bersama Parlemen Pop.

Musisi Vira Talisa dan juara MLDJAZZPROJECT musim perdana, Adoria, berkolaborasi membawakan ulang lagu “Dunia Yang Ternoda” dari Jimmie Manopo. Mondo Gascaro dan Andien mengemas duet Chrisye dan Vina Panduwinata dalam “Kisah Insani”.

Menurut Goardan Saragih, salah satu wakil inisiator dari MLDSPOT, album mini itu merupakan upaya melestarikan dan memopulerkan kembali lagu-lagu legendaris yang pernah berjaya di Indonesia. Ada apresiasi terhadap pencipta musik lawas, sekaligus memperkuat ekosistem dan memperkaya khazanah musik Tanah Air.

Album mini juga bertujuan menginspirasi pencinta musik di Indonesia. “Bisa menjadi pesan bagi generasi yang lebih muda bahwa Indonesia memiliki warisan musik yang sangat banyak dan dapat menjadi referensi untuk menciptakan karya berkualitas di masa mendatang,” ujar Goardan.

Kolaborasi tidak terlepas dari rekam jejak Irama Nusantara sebagai lembaga nirlaba yang konsisten melakukan pengarsipan digital rilisan musik populer Indonesia sejak 2013. Data-data digital musik legendaris Indonesia diharapkan dapat terus diapresiasi dan diselebrasi.

Manajer Program Irama Nusantara, Gerry Apriryan, menjelaskan bahwa album mini bertema Indonesian City Pop. Tema tercetus dari temuan di berbagai kanal streaming musik digital bahwa sejak beberapa tahun terakhir pencinta musik di Indonesia sering memutar genre tersebut.

Tim pun memilih lima lagu andalan yang diklasifikasikan sebagai karya populer city pop dari akhir era 1970-an hingga paruh awal 1980-an. Selanjutnya, ada proses perizinan untuk meng-cover lagu karena karya tersebut diaransemen ulang dan dibawakan kembali oleh musisi berbeda.

“Delapan musisi ini dipilih karena karya mereka ada referensi ke sana (lagu era 1980-an), pasti paham estetikanya mau dibawa ke mana,” kata Gerry pada konferensi pers virtual via Youtube, Rabu (16/6). Dia berharap bisa memperkenalkan lagu-lagu itu kepada pendengar baru.

Proses mastering album mini dilakukan di Abbey Road Studios, London, Inggris, oleh Frank Arkwright. Visualisasi album dipercayakan kepada laboratorium fotografi analog (Lab) Rana, dengan empat fotografer yang menerjemahkan tiap lagu melalui karya fotografi analog.

Karya-karya fotografi tersebut dipamerkan di A3000 Creative Compound, Kemang, Jakarta Selatan, pada 16-18 Juni 2021. Album mini Lagu Baru dari Masa Lalu – Volume 1 tersedia dalam format CD yang dijual seharga Rp 50 ribu serta bisa diakses via kanal musik digital. [ril/ant/t034g-2/foto:MLDSPOT]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here