Larangan konser musik kemanusiaan Tribute to Munir di kampus Universitas Indonesia (UI) boleh jadi menjadi sebuah kemunduran bagi UI. Padahal, kampus ini merupakan representasi Indonesia di mata dunia dan selama ini menjadi salah satu ujung tombak perubahan. UI bahkan merupakan lembaga yang aktif menggerakkan dan mempelopori proses reformasi. Alasan pelarangan tidak jelas dan cenderung mengada-ada, membuat nama UI akan dicatat dalam sejarah sebagai kampus di era reformasi yang pernah melarang konser musik kemanusiaan.

Beberapa hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Kedai Tempo Jakarta (19/02/09), menanggapi keputusan pimpinan UI yang melarang konser musik Tribute to Munir. Hadir dalam konferensi pers antara lain Suciwati (istri alm. Munir), Rusdi Marpaung (Direktur Imparsial), Choirul Anam (Tim Legal Kasum) dan Heru Hendratmoko (Direktur KBR68H).

Ajang pertunjukan musik Munir di UI diorganisir oleh UKM Radio RTC UI berkolaborasi dengan KBR68H dan Kasum. Rencananya akan diselenggarakan Jum'at 20 februari 2009 di lapangan parkir Fisip UI.

Namun larangan datang mendadak. Hanya 4 hari sebelum konser berlangsung. Alasan pelarangan bermacam-macam, dari soal teknis, kuatir bakal menimbulkan kerusuhan, hingga kecurigaan konser ini membawa pesan politik dan bisa berakibat negatif bagi UI. Rektorat minta supaya konser diundur tanggal 10 Desember 2009.

Banyak cara memberi apresiasi pada apa yang sudah dilakukan Munir pada dunia hukum dan Ham di Indonesia. Salah satunya adalah dengan kegiatan seni dan budaya. Dalam konser Tribute to Munir tersebut diadakan lomba cipta lagu dan penerbitan album untuk Munir.

Konser penghormatan bagi Munir sebelumnya sudah berlangsung di 3 kampus. Yakni UGM Yogya, Mercu Buana Jakarta dan kampus Brawijaya Malang. Semuanya berjalan lancar dan tanpa masalah.

"Di 3 kampus ini konser Munir disambut gembira oleh mahasiswa dan pimpinan kampus. Di Malang, kampus Brawijaya malah menyediakan gedung utama untuk pertunjukan. Di Mercu Buana, di sana tampil Kris Dayanti, Efek Rumah Kaca, Melanie Subono. Seru dan aman", jelas Heru Hendratmoko selaku Direktur KBR68H.

Kampus UI justru diharapkan menampung kegiatan semacam ini. Kampus merupakan tempat pergulatan berbagai ide dan masalah. Terlibat dalam realitas sosial dan upaya memecahkan masalah akan menempatkan kampus dekat dengan publik.

Larangan konser Tribute to Munir dinilai merupakan sinyal memunduran bagi UI. Belakangan ini UI aktif terlibat dalam merawat situs Majapahit di Trowulan. Akhir tahun lalu UI juga menjadi tempat acara Munir Memorial Lecture yang memperoleh sambutan hangat di kampus.

Sementara itu, UKM Radio RTC yang mengorganisir kegiatan ini menyatakan sangat kecewa dengan keputusan kampus melarang konser. Pasalnya, konser sudah disiapkan sejak Oktober 2008 lalu.

"Proposal kami kirim sejak Desember dan rasanya tidak ada masalah. Kami sudah order cetak publikasi, undang band yang main dll. Tinggal mainlah", ujar Dhea, koordinator Radio RTC.

Konser Tribute to Munir menurut rencana bakal diselenggarakan di 5 kampus di Indonesia. Setelah UGM, Mercu Buana dan Brawijaya, pentas musik akan dilangsungkan di kampus UI dan kampus Universitas Padjadajaran Bandung. Dengan larangan ini, KBR68H dan Kasum berencana memindah ke kampus lain. (pr/mag)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here