Aceh, bagi musisi Tompi, menjadi  daerah yang tidak pernah dilupakan. Selain, provinsi tempat lahirnya, Aceh memiliki keindahan yang tidak ada duanya. Sejumlah karya Tompi, banyak  yang terinspirasi dari "negeri" ini. Lewat pertunjukan panggungnya, Tompi dengan kelompok "Dr & The Professor" menyambangi penggemarnya di  Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Minggu (16/03) dengan membawakan sejumlah lagunya, diantaranya  Si Judo Dua, dan Bungong Jeumpa.

Tompi tampil dengan iringan Tjut Njak Deviana Daudsyah (piano), Fajar Adi Nugroho (bass), dan Wahyu Prastya (drum), Tompi pun membawakan lagu yang dalam bahasa Indonesia berarti "dua sejoli".

Mendengar musik Aceh, penonton cenderung ingat Bungong Jeumpa. Tompi memberi sedikit kisikan mereka sedang terlibat proyek dengan iringan orkestra Jerman untuk lagu tersebut. Ia dan Deviana terbang ke Jerman untuk menggarap proyek tersebut.

Lahir dan besar di Aceh, Tompi mengaku cara bernyanyinya sedikit banyak dipengaruhi dari tempatnya berasal. Budaha menurutnya bisa terdengar dari cara bernyanyi.

"Saya suka heran ada penyanyi yang suaranya kayak Stevie Wonder. Memang bapaknya Stevie Wonder?" canda dokter bedah itu.

Tompi tidak memungkiri daerahnya asalnya itu masih bergejolak secara politik. Sebagai putra daerah, ia berpendapat ini adalah pekerjaan rumah bagi mereka yang berdarah Aceh, maupun bangsa Indonesia.

Indonesia tidak boleh menyerah mempertahankan Aceh karena Aceh adalah bagian dari negara ini sejak merdeka 1945. "Sekarang bukan saatnya untuk menyerah. Saatnya buat ngebenerin," kata Tompi.

Tak hanya membawakan lagu Aceh, Dr & The Professor juga membawakan lagu dari daerah lain. Kali ini mereka membawakan Angin Mamiri dari Sulawesi Selatan, yang kebetulan juga daerah tempat orangtua Deviana berasal. [ant/tir]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here