Hari Rekaman Musik Sedunia" atau yang dikenal  "Record Store  Day "yang jatuh pada tanggal 19 April dirayakan oleh  kelompok muda kreatif Kota Bandung   dengan  menggelar   konser,  sekaligus rekaman langsung bagi band yang tampil di Omuniuum kawasan Ciumbuleuit Kota Bandung.

"Acara ini kami selenggarakan guna menghidupkan dan memberi dukungan terhadap kegiatan yang dilakukan para musisi, label dan toko-toko musik yang ada di Bandung," kata Owner Omuniuum Stafianto Tri Yuniantoro (37) di Bandung, Ahad (19/4).

Acara yang digelar Sabtu (18/4) berlangsung hingga tengah malam dengan tema "Mari Merayakan Musik" dimeriahkan oleh penampilan empat grup musik independen asal Bandung beraliran folk, seperti Mr Sonjaya, Nada Fiksi, Teman Sebangku dan Tetangga Pak Gesang.

"Mereka yang tampil melakukan rekaman secara langsung di sini, lalu sekitar satu jam kemudian rilisan musik fisik berupa CD bisa langsung dibeli oleh para penikmat musik," kata pria yang akrab disapa Mas Tri tersebut.

Menurut dia, hak rekaman dan keuntungan yang diperoleh dari penjualan rilisan fisik sebagian besar untuk grup musik yang tampil. "Kami hanya membuat 25 CD untuk setiap band, jadi itu merupakan edisi terbatas. Harganya Rp35 ribu per piece," katanya.

Selain melakukan rekaman secara langsung, acara Record Store Day (RSD) di Omuniuum Bandung juga dimeriahkan dengan pasar kaget yang menyuguhkan beragam produk, seperti piringan hitam, DVD, CD, baju dan poster dari berbagai grup musik.

Vokalis grup musik Mr Sonjaya Dimas Kusdinar mengatakan Record Store Day (RSD) merupakan sebuah simbiosis mutualisme yang terjadi di antara para musisi dan distributor terhadap rilisan musik fisik.

"Kami berharap dengan adanya RSD yang digelar serentak di seluruh dunia pada hari ini, bisa mengingkatkan kepada kita bagaimana para distrubutor musik itu bisa hidup dari hasil menjual rilisan musik fisik. Jadi jangan cuma melihat musik dari satu sisi saja, tapi coba lihat ke sisi lainnya," kata Dimas.

Hari Rekaman Musik Sedunia atau RSD merupakan ajang tahunan di mana keberadaan toko musik beserta rilisan fisik mendapat perhatian penuh, lantaran era industri musik yang bergeser ke era digital. "Banyak toko musik tutup karena orang-orang saat ini cenderung lebih menyukai musik digital," katanya.

RSD yang diselenggarakan setiap tanggal 18 April 2015 itu menjadi sebuah perayaan akbar bagi para penggemar rilisan musik fisik di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Selain itu, acara tersebut juga menjadi ajang reunian dan saling bertukar pikiran bagi mereka (distributor) yang bergerak di bidang penjualan musik fisik. [ROL/rep/c2]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here