Keinginan Pianis Ananda Sukarlan memasyarakatkan musik klasik di Indonesia tak semulus perkiraannya. Karena ada segolongan orang yang tak ingin musik klasik membudaya di Indonesia.

Di Eropa, musik klasik berkembang dengan subur. Tapi tidak di Indonesia. Meski saat ini sudah banyak yang mengenal musik klasik, tapi ajang tampil para musisi klasik sangat terbatas. Hal itu membuat Ananda Sukarlan prihatin.

"Mungkin saya banyak dimusuhi orang. Karena saya mencoba mengembangkan musik klasik di Indonesia dengan memberikan pendidikan gratis. Ada sekelompok orang yang menolak hal itu. Mereka ingin musik klasik tetap mahal, seperti Lamborghini," kata Ananda Sukarlan di Jakarta, Senin (12/5)

Ananda Sukarlan adalah musisi klasik kelahiran Jakarta, 10 Juni 1968 yang namanya cukup terkenal di Eropa. Ananda yang kini menetap di Spanyol mencoba mendirikan Yayasan Musik Sastra Indonesia sebagai aksi mengembangkan musik klasik di Indonesia dengan memberikan pendidikan gratis musik klasik.

Ananda beberapa kali mengadakan pertunjukkan di Jakarta. Meskipun harga tiket yang dibanderol tergolong mahal, tapi penampilannya selalu dipenuhi penonton. "Jual tiket 1-2 juta selalu ada penontonnya. Dan saya tahu mereka. Tapi ketika tiketnya murah, mereka ini tidak mau menonton," jelas Ananda sambil tersenyum.

Ananda melihat, musik klasik masih dianggap prestise oleh sebagian masyarakat Indonesia. Nah, golongan masyarakat jetset atau kelas atas itu seringkali menonton pertunjukkan musik klasik demi gengsi semata.

Melihat kenyataan itu, Ananda Sukarlan membuat pertunjukkan dengan berbagai kelas. "Yang harga tiketnya jutaan tetap ada. Duduknya di depan dengan bangku-bangku super mewah. Sementara yang kelas 100 ribu juga saya buat," papar Ananda Sukarlan memberikan solusi.

Selain untuk menonton, kalangan jetset yang membeli tiket seharga jutaan Rupiah ini, datang ke pertunjukkan musik klasik untuk ditonton oleh penonton umum yang membeli tiket seharga 100 ribu Rupiah.

Ananda Sukarlan menjadi satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam buku "The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century". Buku itu berisi profil 2000 musisi yang dianggap berdedikasi pada dunia musik. Ia pun menyebut musik klasik sebagai musik sastra. "Karena musik jenis ini harus tertulis," tutur Ananda Sukarlan. [lip6/c2/foto:antara]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here