Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) kini sedang menyiapkan sebuah portal online yang bisa dimanfaatkan para musisi untuk menjual karya-karyanya. Portal ini diharap jadi solusi di tengah lesunya penjualan musik lewat album fisik.

“Mekanisme industri musik sekarang sudah beda. Karena musisi tak perlu lagi recording company. Mereka sekarang bisa rekam sendiri lagunya, dan edarkan sendiri pula,” kata Tantori Yahya, Ketua Umum DPP PAPPRI saat memberi pengarahan pada anggota DPD PAPPRI Jawa Timur di Hotel Java Paragon, Minggu (24/5/2015).

Pria kelahiran Palembang ini mengakui, penjualan musik sekarang beralih ke media online. “Sekarang penjualan fisik tak sebesar dulu. Musisi sekarang jadi terkenal juga bukan karena penjualan fisik, tetapi online,” tandasnya.

Menurut Tantowi, bila nanti portal PAPPRI tersebut sudah bisa difungsikan, pihaknya akan menggerakkan pengurus PAPPRI di daerah-daerah sebagai ‘pengumpul’ musisi setempat yang akan menjual karyanya. “Kita akan hadirkan musisi-musisi besar dari daerah. Kalau di Jatim, kita akan bikin Mus Mulyadi baru, Gombloh baru sehingga industri musik kita makin hidup,” tegasnya.

Untuk menghidupkan industri musik Tanah Air pula, DPP PAPPRI bertekad menghapus pembajakan. Tekad itu dilakukan dengan menggandeng ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia). “PAPPRI bersama ASIRI sudah menghadap presiden dan meminta keseriusan pemerintah dalam penanganan kasus pembajakan. Dalam pertemuan itu presiden langsung memerintahkan Kapolri untuk menindak para pembajak,” urai Tantowi.

Anggota DPR RI ini mengakui, aksi untuk mengenyahkan pembajakan tak bisa dilakukan sendiri. “Karena itu pesan saya, PAPPRI ini harus bisa memberi manfaat, tak hanya bagi anggota tetapi juga bagi organisasi sejenis, jangan malah bermusuhan!” pesannya. [tribunnews/c2]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here