Kelompok musik Jogja Hip Hop Foundation kembali merilis lagu baru secara digital berjudul Jogja Ora Didol, yang berarti Yogyakarta tidak dijual. Liriknya tidak hanya mengandung kritik atas kebijakan penataan kota yang justru membuat Yogyakarta semrawut. Namun juga kritik atas penanganan kasus premanisme dan kekerasan berkedok agama yang anti-kebinekaan.

Lagu itu diluncurkan bertepatan ulang tahun JHF kesepuluh, 20 Juni 2014 pukul 00.00 WIB. Mereka menyertakan tiga tuntutan. “Kami tuntut terciptanya daerah sebagai rumah yang memanusiakan manusia. Dan pemerintah punya kebijakan nyata untuk melindungi seluruh warga secara jasmani dan rohani,” kata pentolan JHF, Marzuki Mohamad dalam siaran persnya.

Tuntutan itu tersirat dalam lirik lagu beraliran hip-hop berbahasa Jawa milik mereka: “Hamemayu hayuning bawana // Ditata, dititi, ditentrem kerta raharja // Seiring dengan semangat jamannya // Apakah Jogja siap Istimewa?"

Jogja Ora Didol muncul kali pertama dalam mural di Pojok Beteng Wetan, Kota Yogyakarta, 7 Oktober 2013. Saat itu Muhammad Arif Yuwono bersama seniman mural lain menggelar aksi mengkritik kinerja Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti. Namun aksi itu dipersoalkan pemerintah, dan Arif divonis bersalah. “Lagu ini dibuat untuk menjaga Yogyakarta tetap menjadi kota yang istimewa, karena JHF cinta Jogja,” kata Marzuki.

JHF merupakan kelompok musik hip-hop yang terdiri atas tiga kelompok, yaitu Kill the DJ, Jahanam, dan Rotra. Mereka sering kali mengejawantahkan persoalan kekerasan, intoleran, tata kota yang semrawut karena banyak mal dan hotel, serta teror sampah visual dalam lirik yang ringkas dan mudah dipahami.

Simak saja lirik yang menyentil kebijakan pemerintah daerah yang prokapital: “Sing neng nduwur aja leda-lede // Mundak luntur kinormatane // Warga wis golong-gilig nyambut gawe // Wujud tresna marang Jogja negrine….”  [Tco/c2/foto:istimewa]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here