Suasana daerah pegunungan Bromo, bagi penikmat ajang “Jazz Gunung Bromo 2022”, menjadi pengalaman tersendiri saat menyaksikan pertunjukkan musik yang unik ini. Suasana yang makin gelap dan dingin tidak menyurutkan penonton yang sudah menunggu sejak siang hari.

Sore menjelang malam akhir pekan kemarin, Sabtu (23/07), musisi asal Perancis yang masih berusia sekolah menengah atas itu tampil membawakan enam irama musik jazz dengan klarinetnya. Meski tergolong belia, kemampuan memainkan nada-nada yang meliuk, membuat penonton yang hadir terpana.

Usai penampilannya, giliran kelompok musik Pusakata tampil dengan gaya etnik. Penonton yang tadinya masih tidak begitu ramai, mulai memadati area Amphitheatre Bromo, suhu pun mulai mendingin hingga 14 derajat.

Pusakata diawal membawakan tembang berjudul “Kita” dan “Di Atas Meja”, selanjutnya beberapa tembang andalan mengalir, seperti “Menuju Senja”, “Dunia Batas”, “Ruang Tunggu”, “Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan”, “Kehabisan Kata”, dan “Akad”. Karya-karya legenda tersebut menjadi suguhan menarik para penonton yang tampak “kedinginan”. Sejumlah penonton yang datang bersama pasangan, saling berpelukan dan bergandengan tangan menikmati alunan kelompok musik yang dikomandani Mohammad Istiqamah Djamad, alias Is.

Tidak kalah seru pada malam itu, penampilan Blue Fire Project yang memasuki panggung dengan alat musik tradisional khas Banyuwangi, serta alat musik tradisional lainnya. Mereka memainkan irama musik jazz dengan sentuhan rock yang sangat memukau.

Penonton yang mayoritas mengalami masa remaja era 1980an mulai terbakar semangat, mendengar permainan musik mereka sembari menanti Ahmad Albar dan Ian Antono memasuki panggung. Memainkan musik sekitar 30 menit, tak lama Ian Antono menaiki panggung diiringi Ahmad Albar yang masuk dari sela bangku penonton.

Membuka penampilan dengan “Panggung Sandiwara”, suara Ahmad Albar masih terdengar sangat prima. Musisi dengan rambut yang kini tidak kribo lagi juga membawakan lagu jagoan God Bless lainnya seperti “Kehidupan”, “Semut Hitam”, dan “Rumah Kita”.

Jazz Gunung Bromo 2022 menjadi pertunjukan spektakuler pasca pandemi. Ini diakui oleh sejumlah penonton yang hadir saat itu, sembari berharap tahun depan dibuat lagi dengan nuansa yang tidak kalah keren. [med/ril/T03/foto : antara]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here