Nama musisi dan penyanyi Fariz Rustam Munaf, lebih dikenal dengan Fariz RM,  tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan musik Indonesia, terutama era 90-an. Sejumlah hits sukses diciptakan penyanyi kelahiran 5 Januari 1959, diantaranya Sakura dan Barcelona. Memang, bakat musiknya sudah mulai terlihat sejak umur 5 tahun, dan Ibunya yang guru Piano sangat mempengaruhi jiwa seniman dalam diri Fariz.
 
Pencarian tentang "gaya" bermusiknya sudah dimulai sejak awal kecil, bisa dilihat dari referensi musiknya yang cihui punya. Misalkan Wolfgang Amadeus Mozart, Franz Frederick Chopin, Bella Bartol, Duke Ellington, Miles Davis, hingga musisi tanah air seperti Ismail Marzuki, Mochtar embut, Bing Slamet hingga Broery Pesulima. Untuk aliran Pop-Rock, Fariz menggemari The Beatles, Rolling Stones, Pink Floyd, Led Zeppelin  dan  Jimi Hendrix.

Beberapa group band pernah disinggahi, Transs, Jakarta Rythem Section, Wow!, Gang Pegangsaan, dan Sympony. Proyek musikalnya juga banyak, sejumlah duet dan kolaboratif dilakukan, misalkan dengan Jacob, Janet Arnaiz dan Renny Djajusman. Sebagai penata musik dalam film nasional dan sinetron juga pernah dia lakoni.

Sebagai sosok pengagum Ibunya, jiwa seni Fariz selalu membuncah. Pengetahuan musiknya yang luas, pergaulan dengan banyak musisi dari berbagai aliran, hingga etika bermusiknya pun digenggam erat sebagai sebuah ideologi yang dia berlakukan bagi dirinya. Fariz, yang kita kenal sebagai sosok yang kalem, anteng dan murah senyum ternyata memiliki "sosok" lain. Dia  menjadi pemberontak dalam berkarya, sehingga karya-karya musiknya yang aneh bin nyeleneh  bisa kita jumpai dalam karyanya.

 
Dia juga tegas terhadap sesuatu yang bertolak belakang dengan  pemikirannya, apalagi yang terkait dengan seni. Fariz juga kadang merasa resah dengan kondisi perkembangan dunia musik sekarang. Tidak hanya itu, dia juga mengkritik tingkah polah musisi yang tidak konsisten dengan sejumlah karyanya.

Sekalipun demikian, Fariz merupakan sosok yang open-minded terhadap karya seni. Dia tidak segan untuk berkolaborasi dengan sejumlah musisi muda, seperti Maliq  n The Essentials, Efek Rumah Kaca, dan White Shoes & The Couples Company.

 
Lewat karyanya dalam bentuk buku berjudul Living in Harmony, Fariz menuangkan "Jati Diri, Ketekunan, dan Norma" yang dia pegang. Anda pasti terkesima dengan sikap, ketekunan, dan perjuangan Fariz RM menjelajahi dunia yang bukan hanya soal musik. Celotehan dia tentang Media, Sinetron, hingga tentang dunia usaha lengkap diurai dalam buku setebal 300 halaman ini. [lyz/it/cover:Kompas]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here