Bulan September 2013 lalu Warkop DKI memasuki usia 40 tahun. Meski cuma tinggal satu personel, Indro, hingga kini grup lawak legendaris tersebut belum ada yang menyaingi. Mau tahu resep sukses mereka? Berikut kisahnya yang berhasil dirangkum dari berbagai sumber.

Warkop DKI, Berawal dari Acara di Radio
September 1973 mereka mulai siaran. Waktu siaran setiap hari Kamis pukul 20.30 sampai 21.15 WIB. Tak ada persiapan apa pun. Ide guyonan selalu ditemukan ketika akan siaran. Ceritanya juga seenaknya. Nama “warung kopi” disematkan sebagai tempat yang paling demokratis untuk membicarakan hal-hal hangat di negeri ini.

Agar seru, masing-masing punya aksen berbeda. Kasino menirukan logat China dan Padang. Nanu berdialek Batak, dan Rudy Badil dengan aksen Jawa. Memasuki tahun 1974, Dono direkrut untuk gabung. Saat itu Dono dikenal sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial UI yang juga aktivis. Ia tak banyak bicara. Namun sekali nyeletuk, banyak orang tertawa. Apalagi aksen Jawa-nya kental. Unik.

Tanggal 15 Februari 1974, Tanaka tiba di Jakarta. Mahasiswa melangsungkan aksi unjuk rasa di Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Saat berlangsung demo anti Tanaka, Wahjoe Sardono alias Dono berada di antara kerumunan massa di kampus UI, Salemba, Jakarta Pusat. Dono tidak hanya ikut aksi demo. Ia juga sibuk memotret semua peristiwa aksi.

Uniknya, sehari sebelum kejadian, Indro baru pulang dari Filipina menjadi Kontingen Indonesia untuk acara Jambore Internasional. Tiba di Bandar Udara Kemayoran, Jakarta, Indro kaget. Banyak tentara bertebaran. “Saya pikir, kontingen pramuka disambut. Hebat banget,” kata Indro. Ia sempat diminta membawa masuk anggota kontingen ke dalam ruangan VIP. Lantas mereka langsung dilarikan ke rumah kediaman Pakubuwono di Jalan Mendut, Menteng, Jakarta Pusat.

Indro memilih pulang ke rumahnya. Firasat Indro, akan ada kejadian luar biasa di Jakarta. Kasino juga berada di antara massa yang berada di Bandara Halim. Saat itu, dia menjabat sebagai Wakil Senat Mahasiswa FISIP UI. Kasino bahkan sempat dikejar-kejar polisi sampai ke komplek Angkatan Udara yang tak jauh dari bandara. Ia terpojok. Dalam posisi terjepit, Kasino memelas “jangan pukul dong pak, saya kan cuma ikut-ikutan.” Kasino pun tak jadi dipukul.

Warkop DKI, Dari Lima Sisa Tiga
Dari interaksi di kancah pergerakan, Kasino mengajak Indro bergabung. Formasi acara obrolan di warung kopi lantas jadi lima orang. Kasino, Nanu, Rudy Badil, Dono, dan Indro. Tak ayal, acara ini kian ramai. Dari situlah, Warkop Prambors mulai membesar. Semua media di Indonesia memberitakan. Tahun 1983, Warkop Prambors kehilangan Nanu yang meninggal akibat sakit ginjal. Sedangkan Rudy Badil memilih untuk menjauh dari dunia film. Warkop akhirnya tinggal bertiga; Dono, Kasino dan Indro.

Embel-embel “Prambors” akhirnya dilepas, untuk menghindari pembayaran royalti pada Radio Prambors. Mereka memilih nama “Warkop DKI”. Inilah masa keemasan trio warkop. Selain manggung, film-film mereka juga sukses di pasaran. Hingga pada tahun 1997 Kasino pun akhirnya meninggal dunia akibat tumor otak. Menyusul kemudian Dono, yang dipanggil Tuhan di tahun 2001.

Dono mengembuskan nafas terakhir, di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta Pusat. Ia meninggal dunia akibat penyakit tumor di bagian bokong yang sudah menjalar menjadi kanker paru-paru stadium akhir, dan menyerang lever. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Prosesi pemakaman pelawak senior anggota Warkop DKI ini memang benar-benar mengharukan. Ribuan pelayat turut meneteskan air mata karena tidak kuat menahan kesedihan melihat kepergiannya.

Dari semua personel Warkop, mungkin Dono lah yang paling intelek, walau ini agak bertolak belakang dari profil wajahnya yang ndeso. Dono bahkan pernah menjadi asisten dosen di FISIP UI jurusan Sosiologi. Ia juga kerap menjadi pembawa acara pada acara kampus atau acara perkawinan rekan kampusnya.

Warkop DKI, Sempat Diburu Rezim Soeharto
Dono juga pernah menjadi mahasiswa penting yang diburu oleh rezim Orde Baru karena aksinya memasang spanduk bertuliskan "Jantung Soeharto". Selain dunia akademis dan lawakan, hingga akhir hayatnya Dono, Nanu dan Kasino tercatat sebagai anggota pencinta alam Mapala UI.

Selain dari lawakan, lewat film-filmnya para personel Warkop meraup kekayaan berlimpah. Dengan honor Rp 15 juta per satu judul film untuk satu grup, maka mereka pun kebanjiran uang, karena tiap tahun mereka membintangi minimal dua judul film pada dekade 1980 dan 1990-an. Kala itu film-film Warkop DKI selalu diputar sebagai film menyambut Tahun Baru Masehi dan Hari Raya Idul Fitri di hampir semua bioskop utama di seluruh Indonesia.

Kelebihan Warkop dibandingkan grup lawak lain, adalah tingkat kesadaran intelektualitas para anggotanya. Karena sebagian besar adalah mahasiswa (yang kemudian beberapa menjadi sarjana), maka mereka sadar betul akan perlunya profesionalitas dan pengembangan diri kelompok mereka.

Ini dilihat dari keseriusan mereka membentuk staf yang tugasnya membantu mereka dalam mencari bahan lawakan. Salah satu staf Warkop ini kemudian menjadi pentolan sebuah grup lawak, yaitu Tubagus Dedi Gumelar alias Miing Bagito.

Warkop DKI Selalu Dipadati Penonton
Pada masa jayanya, film Warkop DKI tidak hanya ditayangkan di bioskop lokal. Jaringan bioskop untuk orang kelas menengah ke atas, Bioskop 21, sering menayangkan film mereka. Tak hanya itu, di kampung-kampung diadakan layar tancap yang menayangkan film Warkop DKI. Masyarakat pun berbondong-bondong menontonnya.

“Kami punya kelas penonton sendiri. Semua orang di Indonesia, selalu membicarakan kelompok Warkop DKI,” kenang Indro. Saking tenarnya, Warkop tak putus mendapat undangan ke berbagai daerah di seluruh Indonesia. Kisah yang tidak terlupakan, kenang Indro, saat berkunjung ke Timika, Papua.

Masyarakat di sana memadati lapangan dengan mengenakan koteka. Selama berlangsung dialog lawakan, tak ada satu pun warga yang tertawa. “Kami bingung,” tuturnya. Koteka adalah alat penutup kemaluan untuk pria, yang dibuat dari buah labu. Isi dan bijinya dibuang dan dijemur. Setelah kering, baru bisa dijadikan penutup kemaluan.

“Tiba-tiba Dono berinisiatif. Ia berlari-larian dengan gayanya yang lucu di atas panggung,” kata Indro. Gaya Dono, ditiru Indro, bergoyang dan melenggokkan tubuh sambil tertawa-tawa. “Saya dan Kasino, ikutan juga bergaya kayak Dono. Eh, penonton baru pada ketawa,”sambung Indro.

Panggung Warkop DKI selalu ramai oleh penonton. Kelompok ini, tidak pernah surut karena zaman dan tidak pernah sepi dari kelucuan. Di mana ada Warkop, di situ orang tertawa. Semua tak lepas dari profesionalisme yang diusung mereka. Menurut Miing, di Warkop pembagian kerjanya jelas. Dono bertugas dalam hal hubungan pihak luar. Kasino soal bisnisnya, dan Indro sebagai bendahara dan mengatur hubungan kerja sama.

Tugas Miing mempersiapkan semua perencanaan pementasan Warkop. Termasuk materi guyonannya. Jika ada pementasan di daerah, Miing yang mencari materi yang tepat untuk daerah tersebut. Lawakan Warkop pun pas dengan situasi yang sedang digandrungi. Dari bahasanya sampai pola tingkah serta budaya daerah yang didatangi.

Selama menjadi asisten Warkop, banyak cerita yang mewarnai kehidupan Miing. “Maklum orang desa,” tuturnya. Tak ayal, sang asisten itu kerap jadi korban. “Saya pernah disuruh bawa setrikaan. Kostum yang mereka kenakan saja, pernah saya yang cuci sampai setrika,” sambungnya.

Warkop DKI, Tingkah Konyol
Setiap pentas di luar kota, Miing selalu sekamar dengan Indro. Dono sekamar dengan Kasino. Selama sekamar dengan Indro, Miing selalu berebutan soal alat pendingin kamar. Indro, kata Miing, selalu menginginkan ruangan dengan pendingin. Sedangkan ia sendiri tak tahan. ”Soalnya saya orang kampung yang enggak biasa pakai AC,” kata Miing.

Suatu hari di hotel Surabaya, Jawa Timur, Indro ingin tidur. Ia hanya mengenakan celana dalam dan kaos. AC dinyalakan. Miing tak tahan. Ketika Indro sudah terlihat mendengkur, diam-diam Miing mematikan AC. Ketika hawanya tidak dingin, Miing baru bisa tidur. Namun belum lama terlelap, Indro terbangun dan diam-diam menyalakan AC lagi. Begitu bolak-balik.

Cerita lain, ketika pesawat baru mendarat di Surabaya, Miing demam. Kupingnya terasa panas. Dalam kamar hotel, badannya menggigil. Demam tinggi. Selimut tebal menutup tubuhnya. Dalam kondisi itu, Indro malah menghilang dari kamar. Miing kaget. Pelan-pelan ia ke luar kamar. Dari balkon tangga hotel, ternyata Indro ada di lobi hotel. Sedang merokok dan ngobrol dengan pegawai hotel.

Sambil teriak dan tertawa, Indro mengatakan. “Saya takut kamu entar mati di kamar. Terus, saya yang yang kena jadi saksinya,” kata Indro. Miing kesal tak kepalang. Miing bersaksi, Dono berbeda dengan Indro. Dono adalah sosok yang serius dan sulit diajak komunikasi. Tapi sekali bicara, ternyata enak.

Warkop DKI, Terkenal Jahil
Miing pernah dikerjain Dono. Pagi-pagi petugas kamar hotel mengetuk pintu kamarnya. Miing membuka pintu. “Ini pesanan asinan dan acar,” kata petugas itu. Miing kaget. Tapi terpaksa disantap juga. Tak lama kemudian, telepon hotel berbunyi, terdengar suara Dono dengan mengatakan. “Ing, asinan ama acarnya enak enggak,” ujar Dono sambil tertawa dan menutup teleponnya.

Sebagai pelawak dan akademisi, Dono punya kebiasaan bangun pagi di mana saja ia berada. Usai bangun, Dono akan jalan-jalan di lingkungan sekitar ia tinggal. Tak lupa, kamera yang bergelantungan di lehernya mengambil gambar kehidupan masyarakat. Kamera itu tak pernah ketinggalan dari sisi Dono.

Sementara Kasino, dikenal orang yang cukup care. Ia memperhatikan kebutuhan Warkop. Kasino banyak memberikan saran dan pendapatnya. Ia juga terbilang cerewet untuk soal penampilan, termasuk pada Miing yang hanya asisten. “Kasino pernah minta saya makai jas. Ia langsung ngasih jasnya merek Prajudi. Bayangkan saja, jas yang terbaik saat itu ya merek Prajudi,” ujar Miing.

Dari beberapa artis cantik yang pernah main di film Warkop, Kiki Fatmala di antaranya yang merasa bangga bisa terpilih sebagai gadis warkop. “Terlibat di Warkop, punya kebanggaan sendiri. Pokoknya, semua artis saat itu selalu membicarakan film mereka. Tidak mudah bisa main di Warkop,” ujarnya.“Belum lengkap jadi artis, kalau belum main sama Warkop. Bayarannya paling tinggi, nama artis akan mudah melonjak. Cara kerjanya, juga enak,” sambungnya.

Warkop di mata Kiki, kelompok yang gaul dan tidak kaku. Semuanya serba tidak serius. Dari tiga anggota Warkop, yang paling konyol adalah Indro. Sedangkan Dono dan Kasino, lebih banyak serius. Hanya sesekali saja becanda. Biasanya, saat istirahat syuting, mereka sering main kartu. Pihak yang kalah diolesi arang. Pas sutradara teriak syuting, tak jarang mereka membiarkan saja dengan alasan sedang nanggung. Kalau sudah seperti ini, sang sutradara yang akhirnya mengalah. [cekricek/c2/foto:istimewa]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here