Siapa yang tidak kenal dengan musik jazz? Sejak era 70’an, Indonesia memiliki sebuah perhelatan musik jazz yang diprakarsai oleh seorang mahasiswa jurusan ekonomi Universitas Indonesia. Perhelatan jazz tertua tersebut atau yang biasa kita kenal dengan JGTC (Jazz Goes To Campus) selalu sukses mengundang musisis-musisi jazz ternama. Apresiasi masyarakat Indonesia terhadap musik jazz dirasa masih sangat minim sebab musik jazz dipandang sebagai aliran musik eksklusif yang hanya bisa dinikmati oleh masyarakat middle-up. Benarkah demikian?
Seperti diketahui, musik jazz merupakan pertemuan antara musik Eropa dan musik Afrika yang berkembang dari kehidupan masyarakat kulit hitam di Amerika yang tertindas. Musik Jazz sendiri lahir di Amerika Serikat tahun 1868. Walaupun musik jazz lahir di Amerika Serikat, namun kini jazz bukan lagi hanya milik bangsa Amerika, melainkan sudah menjadi sebuah warna musik yang dimiliki oleh seluruh masyarakat dunia. Kelahiran aliran musik ini dipengaruhi oleh tribal drums, musik gospel, blues dan juga field hollers. Instrumen dasar musik jazz awalnya menggunakan alat-alat musik marching band yang di pakai untuk mengiringi upacara pemakaman warga komunitas Afrika-Amerika di New Orleans. Anggota marching band ini sebagian merupakan musisi dalam kelompok-kelompok musik jazz awal yang belajar secara otodidak dan berperan penting pada awal perkembangan musik jazz.

Di Indonesia, Jazz ternyata sudah digemari sejak lama. Musisi Jazz ternama seperti Bubbi Chen dan  Jack Lesmana (keduanya sudah meninggal) membawa impact yang besar. Baru sekitar tahun 1978, seorang mahasiswa FE UI yang "gila" Jazz, Candra Darusman,  memboyong Jazz ke kampus UI yang saat itu sangat lekat dengan aksi-aksi mahasiswa menentang kebijakan pemerintah. Chandra Darusman pertama kali menggelar Jazz di sebuah Taman 02 Kampus FEUI Salemba, Jakarta, dengan fasilitas seadanya. Namun saat ini, JGTC sukses menjadi salah satu perhelatan musik paling bergengsi yang setiap tahun dilangsungkan di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Depok.

 
35 Tahun JGTC
Tahun 2011 lalu, JGTC yang ke-34 digelar dengan tema ‘Jazz The Way It is’. Tagline ini mempunyai filosofi bahwa pihak penyelenggara menampilkan berbagai sub-genre dari Jazz dan menunjukkan bahwa Jazz memiliki sisi keanekaragaman. Band beraliran non- jazz seperti White Shoes & The Couples Company pun hadir di JGTC tahun 2011 lalu. Selain itu, pihak penyelenggara juga mengundang guest star band dari Perancis, Nouvelle Vague.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, JGTC selalu mengadakan roadshow ke daerah. Kota pertama yang disambangi kala itu adalah Bandung.  Setelah Bandung,  roadshow berlanjut ke Pulau Sumatra. Pada tahun 2011 lalu, untuk pertama kalinya JGTC merambah pecinta Jazz yang berada di kota Lampung. Pihak penyelenggara bekerjasama dengan BEM UNILA dan Komunitas Jazz Lampung serta mengundang Idang Rasyidi Syndicate yang turut serta memeriahkan acara.

Selain roadshow, rangkaian acara yang ada pada The 34th Jazz Goes To Campus antara lain JGTC Exhibition (JGTC Competition dan JGTC Children Workshop ) dan JGTC Awards. JGTC Competition merupakan ajang kompetisi musik Jazz yang telah banyak menelurkan musisi- musisi jazz baru , SKETSA adalah satu nama yang pernah mengikuti kompetisi tersebut.
JGTC Children Workshop, yaitu  acara pengenalan musik Jazz kepada anak- anak Indonesia khususnya mereka yang memiliki keterbatasan finansial. JGTC Children Workshop ini menjadi ajang pembuktian pada masyarakat Indonesia bahwa musik jazz bisa dinikmati siapa pun dan dari status sosial mana pun.
Musisi-musisi jazz yang turut memeriahkan JGTC tahun lalu diantaranya Indra Lesmana, Barry Likumahuwa, Sandy Winarta, Glenn Fredly, Parkdrive, Gugun Blues Shelter, Idang Rasjidi Syndicate, serta band asal Perancis, Nouvelle Vague.
Tahun ini, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia kembali menggelar  JGTC. Tahun ini merupakan JGTC 35, yang berarti sudah 35 tahun serta 35 kali pulalah acara musik tersebut di selenggarakan. Masih seperti tahun sebelumnya, artis-artis dalam negri dan luar negri akan meramaikan acara musik kampus ini. Melalui akun resmi twitternya @JGTCfestival, artis-artis seperti: Indang Rasjidi, @BLPofficial, @kunokini, @_TheGroove, @Bubugiri,@tmc_orangepekoe akan hadir dan mengalunkan musik-musik jazz mereka. @tmc_orangepekoe merupakan performer asal Jepang. Dalam JGTC 35 nanti, juga akan ada Tribute to Bubi Chen Project. Bubi Chen adalah legenda Jazz Indunesia dan dunia. Musisi seperti Jeffrey Tahalele, Cendy Luntungan, Nesua dan Andi Wirianto akan mengisi perform Tribute to Bubi Chen Project. Sedikit cerita mengenai @kunokini, kelompok musik tersebut terbentu pada tahun 2003, musisinya merupakan perpaduan antara Indonesia dan Negara-negara lain, mereka akan membawakan musik instrumen dengan campuran kontemporer musik. Untuk tiket, panitia sudah mulai menjual tiket presale seharga 42 ribu rupiah. Tikte tersebut bisa didapat di @blitzmegaplex Jakarta dan Tangerang, @bliblidotcom dan juga semua @Aksara_Store di Jakarta. Jadi, tunggu apalagi ! [Chyntia/IT/foto:istimewa]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here