oleh Raisa Aurora

Remaja-remaja itu mendendangkan lagu yang dibawakan sekelompok band pendatang baru di sebuah acara stasiun televisi. Tangan digerakkan ke atas dan ke bawah, tubuh bergoyang mengikuti irama, seolah sudah ada pakem gerakan sendiri untuk setiap lagu. Band pendatang baru itu beraksi layaknya bintang rock kawakan. Meski penonton dan pemirsa pun tahu lagu yang mereka bawakan itu hanya lipsynch.

 

“Heran kan, band pendatang baru yang hanya bisa tiga kunci tapi bisa garap lagu seperti itu. Itu semua menggunakan jasa jockey player yang ahli di bidang mixing dan mastering. Jadi mereka tinggal melancarkan aksi panggung aja di hadapan penonton,” kata Gerry Rangga, Ketua Umum Indonesian Rhythm Foundation, sebuah komunitas asal Bandung yang menaungi musisi dari segala genre.
 

Dalam proses perekaman lagu ada empat tahap yang harus dilewati. Pertama yaitu tracking merekam beberapa komponen musik dalam lagu. Biasanya terdiri dari tiga shift, yaitu untuk merekam suara drum, vokal, serta bas, dan gitar. Setelah melalui proses editing, kemudian dilakukan balancing untuk mengatur peak frekuensi setiap instrumen musik agar seimbang. Dilanjutkan dengan mixing yang cukup sulit untuk memadukan hasil perekaman agar menghasilkan lagu yang diinginkan. Belum cukup sekedar mencocokkan komponen musik, terakhir dilakukan mastering. Proses ini menyeimbangkan suara yang keluar dari kanan kiri speaker.
 

Untuk menghasilkan satu lagu membutuhkan jasa teknisi musik yang tidak murah harganya. Keempat proses tersebut biasanya memakan biaya hingga di atas Rp. 50.000.000,00. Dengan perincian biaya rekaman studio Rp. 300.000,00 setiap shift, sedangkan untuk satu lagu ada tiga shift yang harus dijalani. Bila ada sepuluh lagu yang direkam, berarti band tersebut harus mengeluarkan Rp 9.000.000,00 hanya untuk rekaman. Ditambah proses mixing dan mastering yang membutuhkan tenaga ahli khusus, memakan biaya Rp 30.000.000,00 per paket sepuluh lagu. Pembayaran music director sendiri Rp 20.000.000,00. Total mencapai Rp 59.000.000,00 belum termasuk biaya tetek bengek lainnya seperti konsumsi.
 

“Mengapa proses mixing dan mastering itu mahal? Ya karena ilmunya diperoleh dari luar negeri, belum ada tuh di Indonesia,” Gerry menjelaskan.
 

Untuk menghasilkan satu lagu setidaknya dibutuhkan waktu enam jam. Bisa dibayangkan untuk mencetak satu buah album rekaman yang terdiri dari dua puluh sampai dua puluh empat lagu, berapa lama waktu yang dibutuhkan dan modal yang dikeluarkan.

Setelah membuat demo rekaman yang menghabiskan belasan juta, Gerry bersama teman-teman band “Rael” datang ke Jakarta pada tahun 2010. Mereka menemui sebuah label rekaman terkemuka di Jakarta. Setibanya di sana mereka menghadapi permasalahan dana untuk kedua kalinya ketika ditodong dengan pertanyaan, “Wah ada uang berapa, Mas?”
 

Gerry balik bertanya perihal uang yang dimaksud. Sambil tersenyum, si manajer label menjelaskan tentang anggaran dana untuk memproduksi rekaman sendiri, sementara pihak label cukup menyediakan promo album. Gerry hanya bisa geleng-geleng kepala, bersama Rael Band ia pun kembali ke Bandung.  “Gila saya ngga nyangka perkembangan musik saat ini sudah seperti itu. Saya hadir di waktu yang salah.”

Mengorek Keuntungan dalam Alunan Nada

Silakan anda mengetik kata kunci “titip edar” di Google. Sekian artikel dan situs web yang menjajakan jasa titip edar muncul di layar monitor. Dalam situs web Alfa Records misalnya tertulis, “Pada awalnya, 'Alfarecords' hanya konsentrasi pada bidang distribusi rekaman, dengan menawarkan sistem jasa ‘titip edar’ bagi label, produser, ataupun artis yang ingin album rekamannya beredar di toko-toko musik nasional.”

Dari keterangan di atas, ‘titip edar’ menempatkan label rekaman sebagai distributor bukan produsen. Produksi album menjadi tanggung jawab musisi, sementara label rekaman cukup menyediakan jalur untuk promo album ke radio, stasiun televisi, atau tampil di beberapa tempat.

Shatria Dharma selaku Artist & Repertoire Manager dari Sony Music juga mengakui hal ini. “Jadi semua yang mendanai itu adalah band yang bersangkutan. Kalau di Sony itu mekanismenya hanya ada dua, full sign dan titip edar.”

Lelaki yang akrab disapa Aden ini menceritakan bahwa biaya produksi album rekaman yang harus dikeluarkan bahkan bisa mencapai sepuluh milyar rupiah. Kisaran harga ini bergantung dari jenis promosi yang digunakan serta produksi rekaman yang dilakukan (tracking-balancing-mixing-mastering). Biaya rekaman yang demikian mahal membuat label-label rekaman besar enggan membiayai produksi album, alih-alih meminta band yang bersangkutan membiayai sendiri.
 

Sistem ‘titip edar’ ini dimulai sejak 2006 ketika ada sebuah band yang tenar berkat memproduksi sendiri album rekamannya dan menggunakan jasa label rekaman untuk distribusi. Sistem ‘titip edar’ yang digunakan band ini akhirnya dipandang sebagai cara yang jitu. Biaya rekaman yang mahal membuat label berpikir dua kali untuk membiayai produksi lagu. Belum mereka harus bertaruh album tersebut laku di pasaran atau tidak. Bahaya pembajakan turut menyumbang kerugian bagi label rekaman. Sehingga sistem titip edar dipandang dapat mengurangi resiko kerugian yang besar.

“Itu masalahnya, di Indonesia produser masih dianggap sebagai orang yang membiayai modal. Sementara di luar negeri produser adalah orang yang bisa membaca lagu mana yang dirilis duluan dari album, susunan lagu dalam album, pokoknya memutar otak agar album tersebut sukses,” kata Gerry.

Produser musik di Indonesia lebih memilih untuk menimpakan resiko kegagalan tersebut kepada musisi melalui sistem ‘titip edar’, bukan memikirkan cara untuk menyukseskan album rekaman. Lelaki lulusan Universitas Padjadjaran ini juga menyayangkan tidak adanya seleksi yang dilakukan oleh label rekaman, meski sistem “titip edar” ini diberlakukan.

Lebih lanjut Gerry mengutarakan, “Kalaulah mereka tetap ingin menggunakan cara titip edar, seharusnya mereka memilah-milah juga agar band-band bagus yang bisa lolos. Jangan semata-mata band bermodal tapi ga punya modal dalam musikalitas.”

Namun Aden menyangkal, seleksi tetap diberlakukan bagi yang menggunakan jasa titip edar.

“Kita cuma terima (lagu) yang kita anggap bisa dijual. Kenapa kita harus selektif dalam titip edar? Karena ada resiko yang kita tanggung juga. Memang bukan di bagian marketing-nya tapi di bagian distribusinya,” jelas Aden.

Rona Musik Indonesia
Sejak krisis moneter tahun 1998, perekonomian Indonesia runtuh berikut semua aspek industri di dalamnya. Industri kreatif seperti musik turut memikirkan cara lain untuk mengembalikan stabilitas dan keuntungan produksi. Dulu ketika label rekaman berupaya mengorbitkan band-band bertalenta dan mau mengeluarkan biaya produksi jutaan rupiah untuk album, kini mereka tidak mau bertaruh terlalu besar.

Dalam membaca selera pasar di industri musik Indonesia, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar penduduk Indonesia berasal dari masyarakat golongan menengah ke bawah. Lirik yang puitis seperti era Guruh Sukarnoputra dan (alm.) Chrisye di tahun 1980-an tergerus dengan trend lirik lagu yang lebih sederhana dan mudah dipahami banyak orang. Kalimat “aku ingin mencintaimu” lazim digunakan dibanding “ingin selami samudera hatimu temukan mutiara tiada tara” (Kidung Mesra-KLA Project).

Musik yang mampu mewakili suasana hati mereka akhirnya merebut banyak penggemar. Sang musisi mendapat cap arus utama karena mendapat posisi jual di media. Sementara musisi-musisi yang menyuguhkan lagu berbeda tidak dilirik media. Mereka pun cukup memiliki penggemar dalam komunitas tertentu dan mendapat julukan indie, kepanjangan dari independent.

Musisi yang memilih jalur indie lebih ingin mencari ladang kreativitas bukan lahan keuntungan. Mereka tidak mau diatur produser yang ingin mengubah lirik agar ‘akrab’ di telinga penggemar atau mengganti nama band agar menjual. Di sisi lain, mereka juga menunggu perubahan kiblat musik agar mengarah pada genre yang mereka usung. Di sela-sela penantian mereka, sistem ‘titip edar’ terus mengorbitkan musisi-musisi bermodal ke media massa.

Sementara sistem ‘titip edar’ ini ditanggapi oleh Wendy Putranto, Executive Editor majalah Rolling Stone Indonesia, sebagai survival of the fittest. Label rekaman ini sekedar menyambung nafas dari maraknya pembajakan dan illegal downloading. Konsekuensinya mengorbankan musisi-musisi yang padat karya namun tidak padat modal.

Dunia musik di Indonesia menurut sebagian pihak tidak lagi semenarik dulu, mulai dari keseragaman genre dan gaya yang dibawakan pelaku musik hingga kualitas lirik yang sederhana. Hal ini dibuktikan dari hasil riset yang disebarkan melalui internet kepada 589 responden mahasiswa yang tersebar ke seluruh Indonesia, 61% menyatakan kecewa terhadap tren musik saat ini.

“Musik di Indonesia makin lama makin nggak bisa dijual, ini akibat perubahan perilaku dari masyarakat Indonesia sendiri, dulu pasti beli piringan hitam atau kaset tapi sekarang udah ada internet tinggal search terus download,” kata Wendy Putranto, Executive Editor majalah Rolling Stone Indonesia.

Akibat langsung dari kesukaan masyarakat Indonesia mendapatkan yang gratis tanpa menghargai jerih payah orang lain menjadi pisau bermata dua bagi para pelaku musik. Di satu sisi, antusiasme masyarakat kian bersemi dalam menyambut karya idolanya. Sedangkan di sisi lain tindakan free dowload music membunuh keinginan para pelaku industri untuk mengorbitkan karya musisi yang bermutu.[bersambung]

*Artikel pernah dimuat di majalah Suara Mahasiswa UI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here