oleh Raisa Aurora

Sebenarnya pembajakan di”legal”kan oleh pemerintah Indonesia sejak 1958 oleh Perdana Menteri Djuanda dengan keluarnya Indonesia dari Konvensi Bern. Negara yang terikat dalam konvensi Bern harus membayar royalti bagi setiap karya cipta yang dihasilkan oleh negara lain yang terikat dalam konvensi itu. Alasan Djuanda saat itu karena Indonesia baru merdeka dan belum punya cukup modal bila harus membayar royalti bagi setiap buku terbitan luar negeri.  Indonesia akan kesulitan memberi bacaan yang bermutu bagi rakyatnya jika dihambat masalah dana.

Keputusan itu secara tidak langsung mengesahkan tindak pembajakan. Para musisi dimasa lalu seperti Lilies Suryani, Koes Plus, God Bless, Rhoma Irama, Ebiet G Ade, Bimbo, dan Fariz R.M tidak mendapat royalti atas karya-karya mereka karena sistem royalti belum dikenal para pelaku musik saat itu. Sistem bayaran yang berlaku adalah sekali bayar saat rekaman. Jika lagu tersebut dinyanyikan penyanyi lain atau dijadikan jingle iklan, si musisi tidak mendapat apa-apa.

Album-album musisi asing juga terkena dampaknya tetapi tidak direspon karena label internasional baru masuk ke Indonesia pada awal dekade 1990-an. Periode pembajakan legal di Indonesia mulai berakhir saat terjadi insiden dengan musisi Irlandia, Bob Geldof pada tahun 1985. Geldof yang merupakan salah satu pengisi acara konser musik amal untuk bencana kelaparan Ethiopia geram saat menemukan kaset bajakan album Live Aid padahal proses perizinan album belum selesai. Di sampul kaset bajakan itu tertera tulisan “Made In Indonesia. Itu semua karena industri kaset bajakan Indonesia sudah menembus pasar ekspor. Geldof langsung membuat pernyataan di media internasional bahwa, “Mereka yang membeli kaset konser amal bajakan dari Indonesia berarti ikut membunuh rakyat Ethiopia”.

Pada tahun 1986 dia mengunjungi Indonesia dan membuat konferensi pers yang isinya mengutuk pembajakan atas album amal itu. Hal ini membuat gerah Presiden Soeharto yang langsung memerintahkan menterinya, Moerdiono agar mengumpulkan para pemilik label agar “diberi arahan”. Kontan para pemilik label kebingungan karena sejak dulu di Indonesia tidak ada aturan yang membahas mengenai royalti dan hak cipta. Pada tahun 1988, Indonesia pun kembali masuk dalam Konvensi Bern.

Sejak Indonesia kembali masuk konvensi Bern, industri musik dalam negeri semakin bergairah dengan masuknya label internasional seperti Sony Music, Warner Music, dan Universal Music. Hasil penjualan album yang baru mencapai ratusan ribu kopi ditutupi dengan memberi ruang bagi video klip musisi oleh banyak TV swasta nasional.

Industri musik Indonesia mencapai puncaknya saat muncul pendatang baru Sheila On 7 karena album pertama mereka Sheila On 7 berhasil menembus angka satu juta kopi penjualan pada tahun 1999 diikuti oleh pemusik lain seperti Jamrud dengan album Ningrat, PADI dengan album Sesuatu yang Tertunda, dan DEWA dengan album Bintang Lima.  

Kesuksesan ini diikuti oleh musisi lain yang muncul pada periode awal 2000-an seperti Cokelat, Audy, Mocca, Glen Fredly, Peterpan, dan Ungu. Pada masa itu, masalah pembajakan tidak mendapat sorotan hingga terjadi perubahan medium penjualan produk musik dari kaset menjadi CD. Penjualan album fisik mengalami penurunan ditambah kemajuan teknologi informasi yang membuat musik dapat diakses melalui internet.
Perkembangan internet yang mulai marak di Indonesia pada pertengahan tahun 2000, pelan tapi pasti mulai menggerus penjualan fisik album. Untuk menembus angka 500.000 kopi ibarat menegakkan benang basah. Musisi terakhir yang tercatat menembus penjualan sejuta kopi adalah Peterpan dengan album Bintang Di Surga yang mencatatkan penjualan lebih dari dua juta kopi. Musisi lain yang muncul pada masa peralihan budaya teknologi ini seperti UNGU, Nidji, RAN, dan Maliq and D’Essential tidak ada yang menembus angka penjualan 600.000 kopi.

Masalah pembajakan secara fisik makin diperparah dengan meluasnya jaringan internet di Indonesia. Banyak situs yang menyediakan fasilitas unduh gratis termasuk lagu. Lagu yang baru diluncurkan dalam waktu tiga hari sudah tersedia di situs unduh gratis, tidak hanya satu lagu tapi beberapa lagu dalam satu album terbaru.

Menurut Wendy hal ini bukan ulah para major label sebab hal itu justru tindakan bunuh diri, “Saya tidak percaya kebocoran lagu oleh para label ini, tapi saya percaya kebocoran terjadi saat proses rekaman di studio, kalau si artis sendiri yang teledor membocorkan dia bisa dituntut”.

Masalah ini coba dipecahkan lewat penggunaan teknologi baru yaitu Nada Sambung Pribadi (NSP) atau Ring Back Tone (RBT). RBT menurut Wendy adalah obat penawar sementara bagi penurunan penjualan album fisik. “Aliran” ini lantas dianut oleh para label major di Indonesia dan diimani oleh Samsons, Radja, RAN, Kangen Band, dan Wali sebagai cara penjualan musik mereka. Meski mereka sadar bahwa kondisi ini tidak akan bertahan lama.

“Akibatnya mereka tidak lagi memikirkan gimana buat lagu yang bagus, jadi yang kita dengar lagu yang secara kualitas dangkal dan lucu dari segi lirik yang sialnya disukai oleh banyak orang di Indonesia,” ujar Wendy.

Pasar yang dilihat oleh para pelaku industri musik adalah daerah di luar Jakarta. Mereka konsumen terbesar yang menggunakan layanan RBT ditambah jumlah mereka jauh melampaui pasar kota besar. Inilah keuntungan yang sebenarnya bagi para pelaku industri musik. Untuk meraih minat dari pasar ini cukup dengan lirik yang “mudah diterima” ditambah promosi besar-besaran lewat media massa seperti televisi. Akhirnya jenis lagu seperti ini yang menghiasi dunia musik arus utama Indonesia beberapa tahun terakhir.
Seperti yang diperkirakan Wendy, RBT hanyalah obat sementara. Kasus pencurian pulsa yang marak beberapa waktu lalu membuat Tiffatul Sembiring mengeluarkan peraturan unreg misal untuk RBT.
“Saya sih menyambut gembira keputusan ini. Jadi ngga ada lagi tuh penyanyi-penyanyi yang cuma bisa bikin satu lagu, terkenal, lalu tenggelam. Kemana albumnya?” Gerry mengomentari. Setelah kejadian itu, penjualan RBT turun drastis hingga 95%. Keadaan ini membuat industri musik di Indonesia seakan menemui ajalnya.

Industri Musik Tidak Pernah Mati
Anggapan atau pernyataan bahwa industri musik Indonesia menemui ajalnya ditentang keras pengamat musik Deny Sakrie.
“Nggak bener itu industri musik kiamat, kalo mereka emang enterpreneur mereka bakalan puter otak cari jalan lain,” ujar Deny. “Contoh paling gampang gini, gerobak dorong dangdut itu dari dulu udah ada, tapi di zaman digital sekarang masih bertahan tuh,” tambah mantan penyiar Radio Prambors ini.
Dia juga mencontohkan bahwa trend one hit wonder (lagu single yang cepat meroket dan cepat menghilang) merupakan hal wajar dan merupakan dinamika dalam dunia musik.

“Misalnya Yan Djuhana yang nemuin Sheila On 7, dia punya insting dengan band ini saat dulu melamar Sony Music. Lalu saat penjualan fisik seret dia masih bertahan dan berhasil mengorbitkan J-Rocks, tapi akhirnya dia menyerah juga dan mengorbitkan Hijau Daun”, ujar pria kelahiran 14 Juli 1963.

Beberapa tahun terakhir kerjasama peredaran album dilakukan antara musisi, label, dan restoran waralaba internasional Kentucky Fried Chicken (KFC). KFC dalam beberapa tahun terakhir menggabungkan penjualan produk utama mereka, ayam goreng, dengan CD album. Sebenarnya cara ini bukan pertama kali digunakan oleh label, pertama kali yang menggunakannya adalah Starbucks yang membuka CD Store di outlet-nya dan musisi yang bekerja sama pertama kali adalah Paul McCartney.

“Itu di Amerika bukan di Indonesia. Di Indonesia budaya menghargai jerih payah orang lain itu belum tertanam di benak masyarakatnya. Kalau di sini KFC buka CD Store pasti nggak laku” tanggap Wendy.
Sistem yang dipakai di KFC Indonesia adalah menjual CD langsung dengan ayam goreng dengan target yang utama adalah CD tersebut terjual bukan didengar. Cara ini terbukti efektif dari segi penjualan, Indah Dewi Pertiwi dan Agnes Monica mengantongi penjualan lebih dari satu juta kopi lewat cara ini dan sekarang musisi yang sedang bekerjasama dengan KFC adalah Slank.

    Kini, industri musik Indonesia dihadapkan pada dua dilema, menjunjung kreativitas atau sekedar komoditas. Industri musik yang digolongkan sebagai industri kreatif, tak ayal diperlakukan seperti industri pangan yang (sekedar) memenuhi konsumsi pasar. Kreativitas dalam mendapatkan untung menggerus kreativitas para musisi idealis. Tidak hanya musik yang mewakili kehidupan manusia, industri musik turut menjadi representasi pilihan hidup manusia. Bertahan dengan idealisme atau larut dalam godaan pasar.

*Artikel pernah dimuat di majalah Suara Mahasiswa UI

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here