Percayalah terang akan datang…Di saat yang tidak terduga. Itu adalah sepenggal lirik "Nyala" yang termaktub dalam album ketiga Pure Saturday, Elora. Seperti itulah kiranya perjalanan penciptaan karya-karya terbaru yang kemudian dilahirkan ke dunia dalam sebuah album bernama The Grey. Ade Purnama mengakui bahwa ide pembuatan album tersebut sudah tercetus 3 – 4 tahun yang lalu. Namun karena diselingi oleh berbagai kegiatan yang menguras tenaga, serta juga personel yang terbawa santai, sehingga terlunta-luntalah album tersebut.

Untuk merayakan kelahiran album tersebut, selang 5 tahun setelah A Time To Change…A Time To Change, sebuah konser bertajuk "The Grey Concert" pun digelar pada Selasa, 15 Mei 2012, malam. Tidak tanggung-tanggung, G Production memboyong Pure Saturday ke sebuah gedung bersejarah. Adalah sebuah gedung yang memiliki bangunan bergaya neo-renaisance dibangun tahun 1821 dikenal dengan nama Theater Schouwburg Weltevreden. Asing dengan nama tersebut? Tentu saja, karena publik lebih mengenalnya sebagai Gedung Kesenian Jakarta.

Pure People sangat antusias menyambutnya, terbukti dengan terisi penuhnya seluruh kursi yang ada di dalam Gedung Kesenian Jakarta. Sebuah video yang menayangkan rekaman mata yang disorot extreme close-up mengawali pentas sebelum akhirnya Adhitya “Adhi” Ardinugraha (gitar), Ade Purnama (bass),Yudhistira “Udhi” Ardinugraha (drum), dan Arief Hamdani (gitar) satu per satu memasuki panggung pertunjukan. Satria “Iyo” Nurbambang (vokal) muncul belakangan mengenakan baju lengan panjang serta legging hitam dan wajah yang dipulas bedak putih tebal sambil menggenggam sebilah pedang.

Album The Grey adalah sebuah album berkonsep yang menggambarkan perjalanan hidup dalam satu hari. Untuk itu, sebuah konser berkonsep yang dicetuskan oleh Iyo hanya beberapa hari sebelum berlangsung pun dihadirkan. "Hal itu saya lakukan untuk merespon lirik, gedung serta lagu," terang Iyo pada kesempatan konfrensi pers yang digelar usai konser. Tampaklah dihadirkan penari balet yang menari indah dan Iyo dalam keadaan terikat ketika "Starlight" dibawakan. Puisi yang dihasilkan selama dua malam juga dibacakan oleh Iyo bercerita tentang kekesalan serta apa yang dirasakannya. Rekti, vokalis sekaligus pemain gitar The S.I.G.I.T, pun turut hadir dan urun suara serta petikan gitar di "Utopian Dreams". Dua orang penari hadir kembali untuk menari rancak sambil sesekali mengibarkan bendera ketika "To The Edge" dibawakan.

Seorang legenda hidup musik Indonesia pun turut memberikan sentuhan emasnya. Yockie Suryoprayogo memberikan nuansa berbeda untuk musik Pure Saturday. Dengarlah "The Horsemen". Nuansa progresif rock merajalela. Begitu pun dengan "Albatross". Yockie mempersenjatai diri dengan Hammond XK3C, Fender Rhodes Suitcase, AccessVirus, KorgKarma, KorgM3, KorgMS2000 dan Steinway Piano yang mengelilinginya. Keterlibatan Yockie di dua lagu tersebut adalah sebuah mimpi yang terwujud bagi Pure Saturday. Bahkan di konser tersebut, Pure Saturday mendapat kehormatan mengiringi Yockie membawakan lagu miliknya "Citra Hitam". 

Babak pertama sebagai pengenalan album The Grey usai. Babak kedua pun dimulai. Bila di babak pertama Pure Saturday bermain dengan serius, hal berbeda terjadi di babak kedua. Mereka pun bermain lebih santai, begitu juga penonton pun mulai lepas berekspresi. "Elora" membuka pecahnya suasana kaku, disusul dengan "Spoken". Karena begitu santainya Pure Saturday, "Nyala" yang ada dalam setlist diganti mendadak dengan "Coklat". Iyo pun mulai turun mendekati, menyapa dan bercanda dengan beberapa penonton yang dikenalnya.

"Jadi rocker jangan lemas gitu dong, malu sama suara," canda Iyo kepada Rekti yang kembali ke panggung untuk bersama menyanyikan "Enough". Iyo pun mengajak penonton untuk lebih ekspresif bernyanyi bersama karena konser tersebut diabadikan dalam bentuk rekaman audio dan visual alias video. Kontan ajakan tersebut membuat suasana semakin pecah ketika "Desire" dikumandangkan. Iyo sempat tidak menyanyi sama sekali dan hanya bermain gitar sambil sesekali menjadi konduktor paduan suara. Lagu yang belum pernah mereka bawakan sama sekali di atas panggung,"Labirin", mengalun indah dengan harmonisasi paduan suara tersebut.

"Ah tadi kan cuma istirahat bentar kok," kata Iyo kepada penonton setelah sempat hilang dan muncul kembali ke panggung. Sebuah intro petikan gitar yang akrab pun dimainkan. Sebuah lagu yang mengenalkan Pure Saturday ke belantika musik Indonesia, "Kosong". Versi awalnya adalah Muhammad Suar Nasution yang menjadi pengisi suara vokal lagu tersebut. Penonton pun sepertinya berharap ada kejutan dengan Suar, yang juga hadir sebagai tamu undangan, naik ke panggung untuk berbagi kegembiraan. Kenyataannya, memang ada tamu istimewa yang hadir ikut nyanyi bersama Pure Saturday, namun bukan Suar melainkan Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca. Tapi penonton tetap memberikan sambutan hangat atas kejutan tersebut.

Datanglah…Kita 'kan s'lalu terbuka…Raihlah tangan terbuka. Sebuah lirik yang tepat untuk mengakhiri "The Grey Concert" ini. Cuplikan dari lagu "Buka" ini seakan sebuah pernyataan bahwa Pure People akan selalu terbuka untuk menunggu karya dan konser Pure Saturday selanjutnya.

[Yose/IT/foto:Yose]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here