Beranda Artikel Panggung Pagelaran Broadway Ala Jogja

Pagelaran Broadway Ala Jogja

42

Program acara Indonesia Kita tahun lalu mendulang sukses. Tahun 2012 ini, program yang didukung penuh oleh Bakti Budaya Djarum Foundation tersebut diadakan kembali dengan menyuguhkan pementasan "Apel, Im In Love" sebagai pembuka rangkaian Indonesia Kita pada Sabtu dan Minggu, 26 – 27 Mei 2012, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Setelah "Apel Im In Love", pementasan berikutnya adalah "Kabayan Jadi Presiden" (13-15 Juli), "Maling Kondang" (7-9 September), serta "Nyonya Nyonya Istana" (16-18 Nopember). Semua pementasan tersebut mengolah khasanah seni mengambil latar belakang kebudayaan Indonesia yang beragam.

"Apel Im In Love" disuguhkan oleh Jogja Broadway Theater yang dikemas dalam gaya theatre of broadway, dengan musik, tarian dan tata artistik yang membuat panggung sangat imajinatif. Dalam pementasannya, tokoh-tokoh imajinatif berupa perkakas sehari-hari yang dekat dengan kehidupan. Ember, panci, wajan, meja, kursi, piring, gantungan baju maupun sendok garpu yang biasanya adalah benda mati, menjadi hidup dan artistik.

Lakon "Apel Im In Love" menyajikan sebuah cerita dongeng yang berpadu dengan kritik sosial yang muncul tanpa berkesan mengajari dan sok tahu. Singkatnya bercerita tentang seorang pedagang kelontong di Pasar Beringharjo Jogjakarta bernama Gareng bertemu dengan peri malam (Olga Lidya) yang memberi bakul ajaib setelah dikenakan membawa Gareng ke Negeri Cinta. Gareng pun jatuh hati pada Putri Apel. Di negeri ini, semua benda hidup dan berbicara melahirkan tokoh seperti Pangeran Bintang, Mat Panci, Detektif Jemuran, Kakek Meja dan Nenek Kursi. Kekacauan terjadi karena ulah Pangeran Wajan. Hal ini mendorong Gareng bersama dua temannya, Wisben dan Joned, untuk membantu memulihkan keadaan Negeri Cinta.

Selipan humor dan plesetan ala Jogja sukses mengocok perut penonton. Trio GAM yang terdiri dari Gareng Rakasiwi, Joned dan Wisben menggelontorkan humor berpadu dengan sentilan. Tak hanya masalah sosial dan politik sampai maraknya boyband pun tak luput dari sasaran sentilan mereka. Kemunculan komedian senior, Yu Ningsih, meski dengan porsi penampilan yang tak banyak, namun berhasil menggelitik perut.

Djaduk Ferianto, salah satu tim kreatif, mengatakan bahwa Indonesia Kita berkeinginan merawat semangat 'menjadi Indonesia' yang menghargai jalan kebudayaan, toleran, menghargai pluralisme. Sebuah usaha yang patut dihargai, mengingat begitu rapuhnya Indonesia kini dengan mudah melahirkan sebentuk kekerasan. "Jangan pernah kapok menjadi Indonesia", begitulah pesan Butet Kartaredjasa.

[Yose/IT/foto:Yose]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here