"Tidak ada manusia yang tidak menari," senandung Dik Doank. Pengejawantahan dari makna lagu tersebut adalah musisi yang menari dengan nada-nada yang dilantunkan, penulis menari dengan kata-kata, maupun penonton menari dengan tepuk tangan. Dik Doank pun mengajak penonton yang memenuhi Gedung Kesenian Jakarta pada hari Rabu, 27 Juni 2012, malam untuk membuat harmonisasi dengan bertepuk tangan.

Dik Doank tidak tampil sendiri. Di konser bertajuk "Main" ini, pemilik nama Raden Rizki Mulyawan Kertanegara Hayang Denada Kusuma ini tampil bersama anak didik Kandank Jurank Doank (KDJ). KDJ merupakan sebuah komunitas kreativitas anak-anak yang didirikan Dik Doank pada tahun 1993 di kawasan Jurangmangu, Ciputat, Tangerang.

Sepanjang pertunjukan, Dik Doank tak hentinya menyelipkan makna dalam setiap tutur dan lirik lagu yang dihantarkan. Betapa indahnya masa anak-anak yang bebas bermain di lagu "Main Di Luar". Asiknya bermain hujan sambil menyanyikan "Mandi Hujan". Suasana pedesaan yang dihadirkan di panggung pun melebur dengan lagu "Peniup Seruling". Tidak lupa akan pentingnya melestarikan huan dan lingkungan ketika "Penebang-Penebang" disenandungkan.

Dik Doank pun mengungkapkan tentang makna hidayah bagi manusia. Sebuah kaleng rombeng yang dibuang sembarangan menjadi latar belakang ceritanya. Ada yang memandang kaleng tersebut sebagai sampah namun ada pula yang menggunakan kembali, salah satunya menjadi alat musik. Sekelompok anak pun kemudian hadir memainkan nada-nada perkusif melalui kaleng rombeng tersebut. Semakin menarik dan indah ketika gelas-gelas plastik pun turut dimainkan sambil menyanyi lagu anak-anak "Heli".

Ketika menyinggung tentang dunia pendidikan, Dik Doank bernostalgia mengenang "permusuhan" dengan guru matematikanya. Siapa sangka lagu bernada olokan yang ditujukan untuk gurunya tersebut kemudian menjadi "penyelamat" ketika menggarap album pertama yang kekurangan lagu. Serta sebuah berkah pula ketika nada lagu tersebut dipakai untuk jingle sebuah produk minuman kesehatan yang mengantarkan Dik Doank ke tanah suci Mekkah di usia muda.

"Garuda" menguraikan keprihatinan pria yang pernah membuat cover album Atiek CB, Chrisye, Broery Pesulima, Nike Ardilla, Ebiet G. Ade, Koes Plus dan AB Three tentang nasib lambang negara yang teronggok tersiakan. Dik Doank mengajak penonton untuk menjaga Jakarta melalui "Jangan Biarkan Jakarta". Melalui lagu "Nonton Bola", dia mengajak mengambil filosofi akan pentingnya berbagi dan kerja sama bagi manusia.

Satu hal lagi yang selalu disampaikan Dik Doank dalam konser ini adalah tentang makna hidup dan ketuhanan. Disampaikannya hal tersebut dengan contoh-contoh yang ada di sekitar kehidupan sehari-hari dalam bahasa yang sederhana. Tidak ada kesan menggurui ketika pelantun lagu "Pulang" ini menjelaskan makna ketuhanan tersebut yang bisa diambil darimana saja, bahkan dari sebuah pertandingan bola.

[Yose/IT/foto:Yose] 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here