Seorang wanita berpakaian hitam berjalan menyusuri panggung. Wajahnya muram seperti tengah memikirkan sesuatu yang meresahkannya. Wanita itu adalah Kunti, ibu para Pandawa, yang tengah memikirkan nasib anaknya, Sahadewa, yang dijadikan tumbal demi kemenangan Pandawa melawan Korawa di perang Batarayudha.

Layar kemudian terbuka, tampaklah sesosok lelaki, yang tak lain adalah Sahadewa, tengah terikat di sebuah batang kayu di tempat bernama Gandamayu. Kalika merayu untuk melepaskan Sahadewa dengan syarat mau menjadi kekasihnya. Sahadewa menjadi tumbal yang diserahkan kepada Durga sebagai imbalan untuk membantu Kunti. Bagi Durga, Sahadewa adalah orang yang bisa meruwatnya melepaskan kutukan agar kembali menjadi Dewi Uma.

Selanjutnya adalah kilas balik ketika Dewa Siwa menguji kesetiaan Dewi Uma dengan berpura-pura sakit. Siwa kemudian memerintahkan Uma mencari susu dari sapi berwarna hitam. Siwa yang menyamar jadi gembala ditemui Uma yang meminta susu dari sapi yang tengah digembalakan. Gembala tersebut akan memberi dengan syarat Uma bercinta dengannya. Meski berat, Uma kemudian melakukan demi kesembuhan Siwa.  Namun Siwa menganggap hal tersebut adalah ketidaksetiaan dan mengutuknya menjadi Durga.

Kisah Repertoar Gandamayu disajikan dalam sudut pandang berbingkai. Panggung dihiasi oleh penata artistik, Ignatius Sugiarto dengan lima batang kayu yang dijulangkan di beberapa tempat, batu besar, level datar yang meninggi ke belakang, tembok miring yang disangga dua batang kayu, serta dedaunan kering yang berserakan.  Bahkan dihadirkan pula sebuah ranjang rumah sakit lengkap dengan infus yang menggantung.

Di panggung itu kemudian terjalin kisah tentang pergulatan dan kebimbangan jiwa. Serta dipaparkan pula tentang makna kesetiaan serta penantian. Gugatan atas kesemenaan laki-laki atas perempuan pun dilontarkan.

Meski mengusung tema cerita mitologi, tidak satu pun pemain mengenakan kostum wayang. Sebaliknya, balutan baju “masa kini” membungkus tubuh para aktor dan aktris dari Teater Garasi. Tari-tari kontemporer turut pula menghiasi jalan cerita dengan Danang Pamungkas sebagai penata koreografi.

Tidak pula ada musik gending yang mengiringi. Sebagai gantinya,  penata music Yennu Ariendra dan Rizky Summerbee menghadirkan irama musik menghentak dan aneka bebunyian untuk mendapatkan suasana yang sesuai.

 Ine Febriyanti berperan sebagai Durga dalam pementasan yang diangkat dari novel Gandamayu karya Putu Fajar Arcana. Can, begitu biasa dia disapa, memberikan kebebasan penuh kepada Gunawan Maryanto dan Yudi Ahmad Tajudin untuk “mengobrak-abrik” novelnya menjadi naskah pertunjukan.

Ayu Laksmi yang didaulat sebagai Kalika turut pula menyanyikan tiga buah lagu. Salah satu lagu mengandung lirik menceritakan tentang kepedihan hati Kalika ditinggal sendiri di Gandamayu oleh Durga yang telah berubah kembali menjadi Dewi Uma.

Repertoar Gandamayu :  Persembahan Bagi Perempuan, Ibu Sejati Langit dan Bumi ini merupakan persembahan Arcana Foundation bersama dengan Teater Garasi serta didukung oleh Djarum Apresiasi Budaya. Pertunjukan ini digelar 4 – 5 September 2012 di Gedung Kesenian Jakarta sebagai bagian dalam Festival Schouwburg X.

Sesuai dengan janji Yudi yang dicetuskan pada jumpa pers, cerita yang digulirkan tidak membuat kening berkerut. Lakon Gandamayu ditampilkan dengan lebih nge-pop dan mengalir dengan menyenangkan.

[Yose/IT/foto:Yose]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here