Pada 18 Juli 2004, Andika Naliputra Wirahardja, Mohammad Kautsar Hikmat, Nazril Irham, Ilsyah Ryan Reza, Loekman Hakim, dan Hendra Suhendra yang tergabung dalam Peterpan tengah mengukir sejarah. Mereka mengadakan konser bertajuk "Konser Breaking Record" di enam kota berbeda dalam 24 jam. Medan, Padang, Pekanbaru, Lampung, Semarang dan Surabaya. Semua berhasil dilalui dan masuk dalam daftar Museum Rekor Indonesia (MURI).

Namun Peterpan bukanlah seperti Peter Pan versi J.M. Barrie yang menolak menjadi dewasa. Peterpan didewasakan oleh konflik internal, berbagai permasalahan dan gelombang pasang surut di jagad hiburan. November 2006, Andika dan Indra memutuskan keluar dari Peterpan. Ariel, Uki, Lukman, dan Reza tetap melangkah. Namun sebuah prahara menerjang kehidupan Ariel sehingga membuatnya tinggal di hotel prodeo. Selama dua tahun, kelompok musik ini terlunta.

Ketika akhirnya Ariel kembali menghirup udara bebas, sebuah rencana besar yang tertunda pun kembali diselenggarakan. Hal paling mendesak adalah membuat nama baru, karena sesuai kesepekatan dengan Andika dan Indra, nama Peterpan hanya boleh digunakan sampai tahun 2008. Dengan menggamit David Albert sebagai pemain keyboard, Ariel, Uki, Lukman dan Reza terlahir kembali menjadi NOAH.

Sebuah pagelaran ambisius pun diselenggarakan oleh Berlian Entertainment untuk NOAH. Kelahiran NOAH tujuannya adalah untuk membuat sejarah. Konser bertajuk "Born To Make History" pun digelar. Rencana besar NOAH adalah mengukir sejarah seperti ketika mengusung nama Peterpan. Namun tentu sejarah yang dipatri harus lebih besar dari sebelumnya.

Konser kali ini tetap sama diadakan di beberapa tempat dalam tempo 24 jam. Namun lebih fenomenal karena diselenggarakan di lima negara di dua benua. Berawal di The Hi Fi, Melbourne, pada pukul 23.40 sekaligus peluncuran album terbaru Seperti Seharusnya disaksikan 400 penonton. Dilanjutkan di Hong Kong Convention Centre, Hong Kong, pada pukul 15.00 yang diramaikan kehadiran 3000 penonton. Kemudian 1500 orang di KL Live menjadi saksi ketika NOAH menyambangi kota ketiga, Kuala Lumpur, pada pukul 17.30. Dan ketika jarum jam menunjukkan 20.00, TAB Orchid Hotel, Singapura, dipenuhi oleh 400 penonton yang menyaksikan aksi panggung band yang pernah menjajal panggung kafe-kafe di Bandung.

Layar merah masih menutupi panggung. Sahabat NOAH sudah berulang kali berteriak, terutama meneriakkan nama Ariel. Ketika akhirnya Momo "GEISHA" muncul seorang diri dari balik layar. Sebelumnya GEISHA didaulat untuk membuka konser ini dengan menyanyikan sekitar 10 lagu. Meski Momo tengah mengalami gangguan pada pita suara sehingga kesulitan menapaki nada tinggi, tapi semua dilalui dengan baik. Sikapnya yang komunikatif mampu meredam keresahan penonton yang menantikan NOAH.

Momo menyanyikan "Cobalah Mengerti" yang dicuplik dari album Suara Lainnya. Hanya diiringi oleh dentingan piano. Suara khas Ariel tiba-tiba ikut menyeruak namun tidak terlihat sosoknya. Sontak tempik sorak membahana. Ketika akhirnya layar merah terbuka, tampaklah seluruh personel NOAH. Tentu saja ini semakin membuat kegirangan sekitar 1800 penonton yang memadati Skeeno Hall Gandaria City.

NOAH menyapa dengan musik rancak. Guratan kelelahan tampak menghiasi wajah para personel NOAH. Namun tampaknya tekad untuk mengukir sejarah sudah sedemikian besarnya. Jakarta, pada pukul 23.20, menjadi rangkaian penutup konser "Born To Make History". Kerinduan Sahabat NOAH membuncah karena telah lama tidak melihat grup musik yang mereka puja di atas panggung. Meski sempat pula Lukman, Uki, Reza dan David tampil dalam konser "Konser Tanpa Nama" serta ajang penghargaan Anugerah Musik Indonesia tanpa Ariel. Tentu para Sahabat NOAH pun sangat merindukan sosok Ariel.

Lihatlah ketika Ariel hadir. "This is the first gig for me and i feel wonderful", ungkap Ariel. Prahara yang menimpa tidak menghilangkan pesona dan kharismanya. Penonton tetap mengelu-elukan namanya sepanjang konser. Ariel pun tampaknya tahu bagaimana memanfaatkan pesonanya tersebut. Sesekali pula dia mendekati bibir panggung untuk menyentuh tangan penonton, serta mengambil kembang. Ditaklukkan pula penonton dengan suara khasnya. Tentu saja ribuan orang memenuhi ruangan Skeeno Hall dengan koor massal.

Lagu "Cobalah Mengerti", "Walau Habis Terang", "Di Atas Normal", "Menghapus Jejakmu", atau pun "Kisah Cintaku" dikumandangkan serempak. Namun penonton diam menyimak ketika NOAH membawakan "Terbangun Sendiri". Terdengar asing, karena lagu tersebut memang dicuplik dari album terbaru NOAH.
 
"Walau pun 2 tahun kemarin kita berjalan pincang, terima kasih telah memegang tangan kita," ucap Ariel. Hal tersebut sebagai ungkapan salut dan terima kasih kepada Sahabat NOAH serta rekan sejawat yang tak henti memberikan dukungan. Diperkenalkan pula David oleh Ariel, yang baginya adalah bakat istimewa yang sia-sia bila tidak diajak bergabung dengan NOAH. Serta Ihsan, pemain bass, yang telah banyak memberi kontribusi membantu NOAH dalam setiap konser dan juga proses album baru.

Akhirnya rekor berhasil ditorehkan NOAH. MURI mengakui konser "Born To Make History" yang diselenggarakan di lima negara di dua benua dalam 24 jam dengan pemberian piagam. Tidak hanya NOAH, piagam pun diberikan kepada MUSICA Studios serta Berlian Entertainment. "Ini untuk kalian," teriak Ariel sambil mengangkat tinggi piagam penghargaan tersebut. Ini sekaligus menjadi hadiah istimewa bagi Ariel. Karena pada 16 September 2012 itu, Ariel genap memasuki usia 31 tahun. "Separuh Aku" menjadi lagu pamungkas konser.

Satu rencana besar telah terwujud. Entah apalagi rencana NOAH berikutnya. Bila telah berhasil menggelar konser di lima negara, sepertinya bukan hal yang mustahil untuk konser keliling dunia. Novel karya Jules Verne, Around the World In Eighty Days, tampaknya dapat menjadi tema konser NOAH berikutnya. Seperti apa yang dikatakan oleh Ariel,"semua orang mempunyai mimpi."

[Yose/IT/foto:Yose] 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here